.
Juni 2009 - Desember 2010
.
Menjelajahi dan merekam secara multimedia alam serta manusia kepulauan Indonesia; bersepeda-motor menyusuri pulau besar dan dengan kapal nelayan mengunjungi 100 pulau untaian Zamrud Khatulistiwa. Tim ekspedisi keliling Indonesia selama 8 (delapan) bulan, mengunjungi, mendokumentasikan dan mempublikasikan lewat produk multimedia kehidupan di 100 pulau pada 50 gugus kepulauan.
Oleh: Ahmad Yunus
Bagaimana rasanya meninggalkan daratan Kalimantan? Rasanya campur aduk. Satu sisi senang karena telah selesai melewati daratan Kalimantan. Sisi lain, perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa belumlah tamat sampai di sana. Bahkan boleh dibilang, ini titik awal untuk memasuki etafe perjalanan berikutnya: kawasan Indonesia Timur. Kawasan kepulauan yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang di Indonesia bagian barat. Read more…
Oleh: Ahmad Yunus
Ada hal lain yang menyenangkan dalam perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Kita bertemu dengan banyak wartawan, mahasiswa, blogger, aktivis lingkungan, hingga komunitas film dan buku. Mulai dari Lampung, Padang, Aceh, Medan, Pontianak hingga Makassar. Mereka membantu perjalanan kami. Menyediakan tempat untuk menginap hingga memberi informasi soal pulau yang hendak kami liput. Read more…
Hari ini, Tim Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa akan melanjutkan perjalanan di wilayah timur nusantara. Saat ini di Makasar tengah menyusun jadwal dan menyesuaikan agenda dengan jadwal pelayaran. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Di malam pergantian tahun baru di Makassar, saya terkejut ketika membaca sebuah berita di harian Fajar, 31 Desember 2009. Ini berita kriminal yang terjadi di Enrekang. Judulnya “Wisatawan Inggris Dicopet di Atas Bus”. Berita ini dilengkapi dengan foto.
Si wisatawan terlihat panik di ruang pelayanan reserse polisi Enrekang. Namanya, Lewis Camron. Usianya 23 tahun. Ia kehilangan dompet. Isinya uang tunai USD 50, 50 dolar Singapura, dan 500 ribu rupiah. Read more…
Oleh Eko Rusdianto, Makassar
Badannya tak kekar. Kalau jalan tak tegap, bila ingin membaca harus menggunakan kaca mata. Dia itu wartawan Pena Indonesia, mantan Redaktur Pelakasana Majalah TEMPO, pernah meliput perang Bosnia tahun 1992 untuk harian Republika. Namanya Farid Gaban. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Kapal kayu milik Turisi tersendat-sendat. Air laut surut. Lumpur menghalangi laju kapalnya. Mesin menderu. Baling kapal mencakar lumpur. Ia baru saja pulang dari Tawau, Malaysia. Belanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari gula, beras, ayam kampung, hingga bibit tanaman.
Kapalnya menyusuri perbatasan antara Malaysia dan Indonesia di Pulau Sebatik. Pekarangan Malaysia di Sebatik hanya ditumbuhi dengan bakau. Tak terlihat bangunan rumah. Apalagi kehidupan yang meramaikannya. Tak ada pancang yang mengibarkan bendera Malaysia. Apalagi menaruh tentaranya untuk menjaga pertahanan perbatasan. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Anwar duduk sendirian di atas sampan. Memakai topi lusuh menghindari dari sengatan matahari. Tangannya terampil memasang bibit rumput laut pada seutas tali yang membentang. Air laut merayap tenang. Dia memiliki sekitar 20 tali dengan panjang sekitar 100 meter. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar satu ton rumput laut basah. Dua tahun sudah ia menanam rumput laut.
“Hasil dari penjualannya lumayan. Tidak repot mencari pembeli,” katanya. Harga satu kilogram rumput laut kering di Teluk Lombok, Sangatta, Kalimantan Timur sekitar 7.500 rupiah. Harga basahnya cuma dua ribu rupiah. Di Teluk Lombok ada sekitar 100 orang lebih pembudidaya rumput laut. Read more…
Sepedamotor Zamrud Khatulistiwa menyeberangi Tanjung Selor - Tarakan dengan speedboat, satu-setengah jam perjalanan.
Read more…
Ornamen Suku Dayak pada sebuah bangunan terbangkalai pinggir jalan antara Tanjung Redeb dan Tanjung Selor, Kalimantan Timur.
Read more…
Oleh Farid Gaban
Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur mengandung keunikan dan keindahan alam yang mengundang decak kagum. Salah satu yang terbagus di Indonesia.
Ada banyak lokasi penyelaman terumbu karang di pulau-pulau Derawan, Maratua, Sangalaki dan Kakaban. Dan di situ kita bisa menyaksikan pula matarays serta stingray (ikan pari), barisan barracuda dan lompatan lumba-lumba. Kita bisa melihat penyu bertelur dan menetas di Pulau Sangalaki, pulau yang juga berisi hewan seperti biawak dan burung maleo endemik.
Mahkota utamanya adalah Pulau Kakaban, yang terbentuk akibat peristiwa geologis 20.000 tahun lalu. Pulau atol Kakaban memiliki wisata selam terbagus, di samping yang paling unik, danau air payu yang luas tempat jutaan ubur-ubur hidup. Kakaban sering disebut sebagai The Temple of Life on Earth dan oleh Unesco diusulkan sebagai warisan dunia yang layak dilestarikan. Read more…
Suara Anda