.

Juni 2009 - Desember 2010

.

Menjelajahi dan merekam secara multimedia alam serta manusia kepulauan Indonesia; bersepeda-motor menyusuri pulau besar dan dengan kapal nelayan mengunjungi 100 pulau untaian Zamrud Khatulistiwa. Tim ekspedisi keliling Indonesia selama 8 (delapan) bulan, mengunjungi, mendokumentasikan dan mempublikasikan lewat produk multimedia kehidupan di 100 pulau pada 50 gugus kepulauan.

It’s Dangerously Beautiful, Sir!

January 1st, 2010

Oleh Ahmad Yunus

Di malam pergantian tahun baru di Makassar, saya terkejut ketika membaca sebuah berita di harian Fajar, 31 Desember 2009. Ini berita kriminal yang terjadi di Enrekang. Judulnya “Wisatawan Inggris Dicopet di Atas Bus”. Berita ini dilengkapi dengan foto.

Si wisatawan terlihat panik di ruang pelayanan reserse polisi Enrekang. Namanya, Lewis Camron. Usianya 23 tahun. Ia kehilangan dompet. Isinya uang tunai USD 50, 50 dolar Singapura, dan 500 ribu rupiah. Read more…

Si Farid dan Yunus Punya Cerita

December 29th, 2009

Oleh Eko Rusdianto, Makassar

Badannya tak kekar. Kalau jalan tak tegap, bila ingin membaca harus menggunakan kaca mata. Dia itu wartawan Pena Indonesia, mantan Redaktur Pelakasana Majalah TEMPO, pernah meliput perang Bosnia tahun 1992 untuk harian Republika. Namanya Farid Gaban. Read more…

Etalase Indonesia di Pulau Sebatik

December 27th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Kapal kayu milik Turisi tersendat-sendat. Air laut surut. Lumpur menghalangi laju kapalnya. Mesin menderu. Baling kapal mencakar lumpur. Ia baru saja pulang dari Tawau, Malaysia. Belanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari gula, beras, ayam kampung, hingga bibit tanaman.

Kapalnya menyusuri perbatasan antara Malaysia dan Indonesia di Pulau Sebatik. Pekarangan Malaysia di Sebatik hanya ditumbuhi dengan bakau. Tak terlihat bangunan rumah. Apalagi kehidupan yang meramaikannya. Tak ada pancang yang mengibarkan bendera Malaysia. Apalagi menaruh tentaranya untuk menjaga pertahanan perbatasan. Read more…

Menikmati Hasil Alam ala Teluk Lombok

December 20th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Anwar duduk sendirian di atas sampan. Memakai topi lusuh menghindari dari sengatan matahari. Tangannya terampil memasang bibit rumput laut pada seutas tali yang membentang. Air laut merayap tenang. Dia memiliki sekitar 20 tali dengan panjang sekitar 100 meter. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar satu ton rumput laut basah. Dua tahun sudah ia menanam rumput laut.

“Hasil dari penjualannya lumayan. Tidak repot mencari pembeli,” katanya. Harga satu kilogram rumput laut kering di Teluk Lombok, Sangatta, Kalimantan Timur sekitar 7.500 rupiah. Harga basahnya cuma dua ribu rupiah. Di Teluk Lombok ada sekitar 100 orang lebih pembudidaya rumput laut. Read more…

Motor Zamrud Menyebrangi Tanjung Selor - Tarakan

December 20th, 2009

Sepedamotor Zamrud Khatulistiwa menyeberangi Tanjung Selor - Tarakan dengan speedboat, satu-setengah jam perjalanan.

Read more…

Ornamen Suku Dayak

December 20th, 2009

Ornamen Suku Dayak pada sebuah bangunan terbangkalai pinggir jalan antara Tanjung Redeb dan Tanjung Selor, Kalimantan Timur.

Read more…

Derawan: Mendorong Ekowisata Bahari Berbasis-Masyarakat

December 18th, 2009

Oleh Farid Gaban
Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur mengandung keunikan dan keindahan alam yang mengundang decak kagum. Salah satu yang terbagus di Indonesia.
Ada banyak lokasi penyelaman terumbu karang di pulau-pulau Derawan, Maratua, Sangalaki dan Kakaban. Dan di situ kita bisa menyaksikan pula matarays serta stingray (ikan pari), barisan barracuda dan lompatan lumba-lumba. Kita bisa melihat penyu bertelur dan menetas di Pulau Sangalaki, pulau yang juga berisi hewan seperti biawak dan burung maleo endemik.

Mahkota utamanya adalah Pulau Kakaban, yang terbentuk akibat peristiwa geologis 20.000 tahun lalu. Pulau atol Kakaban memiliki wisata selam terbagus, di samping yang paling unik, danau air payu yang luas tempat jutaan ubur-ubur hidup. Kakaban sering disebut sebagai The Temple of Life on Earth dan oleh Unesco diusulkan sebagai warisan dunia yang layak dilestarikan. Read more…

Ratusan Tukik Penyu Memulai Hidup

December 18th, 2009

Menonton ratusan tukik (anak penyu) menetas; dan melepasnya ke laut. Bertahun kemudian, setelah ribuan kilometer ditempuh, mereka yang bertahan hidup akan kembali ke Pulau Sangalaki ini untuk bertelur. Mereka punya ingatan fotografis yang kuat.

Read more…

Menemukan Keabadian dari Sebuah kata

December 18th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Menjaga stamina dalam menulis catatan perjalanan membutuhkan waktu dan energi tersendiri. Terkadang begitu mudah menuliskannya. Namun seringnya tersendat. Penyakitnya macam-macam. Mulai kecapean. Hilang konsentrasi. Sampai kurangnya menyediakan waktu untuk menjaga displin menulis.

Kegiatan ini membutuhkan mental baja. Displin dalam menulis. Wawancara dan bercerita. Melihat sudut pandang. Mencari tema yang kuat. Hingga merapikan data. Read more…

Menelisik Misteri Pulau Kakaban

December 18th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Jutaan ubur-ubur melayang dalam payau di sebuah danau. Sebagian ubur-ubur yang bertubuh tambun dan kecoklatan menempel pada alga hijau yang menyerupai hamparan karpet. Air danau terasa dingin. Hening. Semakin jauh tampak gelap. Cahaya matahari memudar.

Kaki atau tentakel dari ubur-ubur meraba untuk menangkap sinar matahari. Sementara bagian tubuhnya yang menyerupai payung berada di bawah. Mereka tengah memasak untuk menghasilkan makanan. Read more…