It’s Dangerously Beautiful, Sir!
Oleh Ahmad Yunus
Di malam pergantian tahun baru di Makassar, saya terkejut ketika membaca sebuah berita di harian Fajar, 31 Desember 2009. Ini berita kriminal yang terjadi di Enrekang. Judulnya “Wisatawan Inggris Dicopet di Atas Bus”. Berita ini dilengkapi dengan foto.
Si wisatawan terlihat panik di ruang pelayanan reserse polisi Enrekang. Namanya, Lewis Camron. Usianya 23 tahun. Ia kehilangan dompet. Isinya uang tunai USD 50, 50 dolar Singapura, dan 500 ribu rupiah.
“Saya mengenal anak muda itu. Ada dimana dia sekarang. Wah kasihan sekali. Apa wartawan yang menulis berita itu bisa dikontak?,” kata saya.
Eko, wartawan harian Seputar Indonesia terperangah melihat saya. Dia tidak percaya bahwa saya mengenal Lewis anak dari Manchester itu. Eko langsung menelephone Kasman, wartawan Fajar yang menulis berita itu. Lewis sudah meluncur ke Bali, katanya.
Saya mengenal Lewis ketika berada di kapal. Saat penyeberangan dari Tarakan menuju Makasar minggu yang lalu. Ia seorang backpack. Sudah satu tahun ia melakukan perjalanan. Dari Inggris menuju India, Thailand, Singapura, Malaysia kemudian bergerak ke Indonesia. Ia hendak ke Lombok dan Flores.
Di atas kapal ia kesulitan mencari air bersih. Saya bilang memang begitu kondisinya. Bukan hanya dia yang kesulitan. Tapi ratusan penumpang lain juga mengalami hal yang sama. Ini berlaku bagi penumpang kelas ekonomi. Kelas yang tidur di geladak kapal. Dan kalau beruntung mendapatkan matras bau busuk untuk tikar tidur. Dan menggunakan toilet yang mampat. Berak dan air kencing siap menampar pandangan mata anda.
“It’s crazy,” katanya.
“It’s our first time to use this f**k’n ship,” kata saya. Kami tertawa dan langsung menikmati kondisi kapal apa adanya.
Perjalanan dari Tarakan menuju Makassar ditempuh sekitar dua hari dua malam. Tak banyak kegiatan yang bisa dikerjakan. Selain tidur, jalan kaki melihat ruangan kapal, atau mengatur makan. Tujuannya agar tak terlalu banyak memasukan karbohidrat ke dalam perut. “Panggilan alam” sangat menyiksa jika toilet kapal seperti itu. Atau ngobrol dengan penumpang lain yang tak dikenal sama sekali. Seolah mengenalnya seperti kawan lama.
Dalam perjalanan di kapal, kita sering berdiskusi. Soal pengalaman masing-masing selama melakukan perjalanan hingga bagaimana si Lewis mengenal Indonesia, Menurutnya, tak banyak anak muda Inggris macam dia yang menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia. Padahal katanya, perjalanan ke Indonesia sangat murah untuk dompet orang Inggris.
“Saya suka gunung, hutan dan pantai. Saya belajar banyak saat kuliah geography,” katanya.
Saya tidak terlalu kaget dengan orang macam Lewis. Banyak anak muda dari Eropa ingin mencoba pengalaman baru dengan melakukan perjalanan macam dia. Membawa ransel besar. Membawa buku ‘Lonely Planet’ dan jalan sesuka hati. Dengan biaya semurah mungkin.
Pengalaman untuk melihat dunia luar penting untuk membuka pandangan. Banyak pelajaran yang tidak mungkin akan didapatkan selama di ruang kelas. Atau ruang keluarga di rumah. Tak banyak pemuda Indonesia yang melakukan itu. Melakukan perjalanan jauh dan mengambil pelajaran atas pengalamannya. Menikmati dan bermain di taman Indonesia yang eksotik ini. Perjalanan menambah kepekaan sosial.
Saya beruntung bisa melakukan perjalanan sejauh ini. Dan menikmati dengan senang hati selama perjalanan. Menulis kehidupan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau. Dan berkenalan dengan kawan baru dan menumbuhkan persahabatan.
Banyak kawan dan kenalan baru yang merasa iri dengan perjalanan Zamrud Khatulistiwa. Mereka menginginkan kemerdekaan untuk melihat dunia luar. Kebutuhan hidup memaksa mereka menjadi terjajah dengan rutinitas. Mengisi kegiatan sehari-hari dengan pola yang sama. Dari pagi hingga malam.
Tapi suatu saat, saya pun akan menghadapi kenyataan seperti itu. Tapi mungkin dengan cara yang berbeda. Pengalaman perjalanan ini membuat saya merasa jauh lebih hidup. Dan melihat kehidupan jauh lebih kaya.
“Kami pengangguran,” begitu kata Farid Gaban menjelaskan mengapa bisa melakukan perjalanan sejauh ini.
Kembali kepada si Lewis. Di kapal ia sempat menunjukkan foto selama perjalanannya. Dan sempat meminta tolong untuk mengatur beberapa fotonya ke dalam bentuk kartu ucapan. Ia hendak mengirimkan kartu ucapan Natal pada orangtuanya di Inggris. Ia senang setelah Farid Gaban membantu membuatkan kartu ucapan itu. Lewis memberinya sebatang coklat. Farid Gaban melahap coklat itu.
Kapal berlabuh di dermaga Pare-Pare. Lewis langsung melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Di sebuah warung makan, kita saling bertukar email. “Good Luck, Lewis. Enjoy Indonesia,” kata saya. Dia membawa dua tas ransel besar. Dan memilih naik bis karena lebih murah.
Kejadian pahit ini terjadi saat dia pulang dari Tana Toraja menuju Makassar. Mungkin dia tertidur saat di dalam bis Sumber Sederhana. Ia baru saja sadar telah kehilangan dompet dalam perjalanan menuju Makassar.
Sedih juga melihat si Lewis kehilangan dompetnya. Ini pengalaman pahit. Dan pelajaran yang penting untuk saya dan Farid Gaban. Perjalanan Zamrud Khatulistwa masih jauh. Kejahatan bisa saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Dalam hati saya cuma bisa menggerutu pada si pencopet itu. Bangsat. Dasar bajingan!. Welcome To Indonesia. It’s dangerously beautiful, Sir!***

saya sempat baca beritanya kemarin di Fajar, dan ikut mengelus dada…
Jadi terbayang kembali perjalanan Bima-Flores-Makassar beberapa bulan yang lalu, dimana saya dan beberapa orang sobat bersama 2 bekpeker prancis menggantungkan hidup didalam sekoci KM.Tilongkabila. Kapal penuh sesak sampai to deck. 2 bule berkata, Indonesia is extreemly crazy, but it fun.
Wellcome to Indonesia Lewis…
btw latest position team zamrud Indonesia udah sampai dimana nih mas?
mudah2an yang hilang “cuma” duit. kalo surat2 berharga seperti paspor atau identitas, berabe dah..
Semoga selamat sampai tujuan gan.
salam sukses selalu kang yunuz..
kapan ke makassar lagi minum teh ? he he he….
baru kemarin yah kang yunus kita ketemu, baru kubaca berita perjalananmu… it’s EXTREMELY GREAT bro!!