Home > Catatan Perjalanan > Menikmati Hasil Alam ala Teluk Lombok

Menikmati Hasil Alam ala Teluk Lombok

December 20th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Anwar duduk sendirian di atas sampan. Memakai topi lusuh menghindari dari sengatan matahari. Tangannya terampil memasang bibit rumput laut pada seutas tali yang membentang. Air laut merayap tenang. Dia memiliki sekitar 20 tali dengan panjang sekitar 100 meter. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar satu ton rumput laut basah. Dua tahun sudah ia menanam rumput laut.

“Hasil dari penjualannya lumayan. Tidak repot mencari pembeli,” katanya. Harga satu kilogram rumput laut kering di Teluk Lombok, Sangatta, Kalimantan Timur sekitar 7.500 rupiah. Harga basahnya cuma dua ribu rupiah. Di Teluk Lombok ada sekitar 100 orang lebih pembudidaya rumput laut.

Budidaya rumput laut termasuk cepat. Satu hingga dua bulan bisa langsung panen. Dari usaha rumput laut ini, warga di Teluk Lombok bisa mendapatkan uang sekitar dua juta rupiah. Perairan di Teluk Lombok juga terbilang sehat. Ikan laut masih banyak. Hutan mangrove lebat dan tumbuh subur.

Saya menggunakan sampan untuk melihat secara dekat budidaya rumput laut di Teluk Lombok. Anwar tahu persis bagaimana seharusnya merawat rumput lautnya. Namun, menurutnya ia harus telaten untuk mengurus rumput lautnya. Mulai membersikan tali dari lumut hingga mengatur rendaman rumput laut.

“Tapi usaha ini masih dianggap sampingan,” kata Ado Tadulako. Ia mantan pengurus dusun di sini. Ada sekitar 100 kepala keluarga yang mendiami dusun ini. Letaknya di dalam kawasan Taman Nasional Kutai. Ado adalah penggagas yang mendorong budidaya rumput laut. Pertama kali ia menanam bibit rumput laut sebanyak lima ton. Dan kemudian warga di dusun ini melanjutkan budidaya rumput laut tersebut.

Menurutnya, hasil rumput laut dari Teluk Lombok ini terbilang sehat. Ukurannya juga besar. Pembeli rumput laut dari Sulawesi, China hingga Korea pun melirik hasil produksi rumput laut dari dusun ini.

“Warga masih mengandalkan dari ikan. Pengolahan dari rumput laut juga belum ada,” katanya. Ia meyangkan warga di Teluk Lombok belum ada yang serius mengembangkan usaha rumput laut ini. Padahal, peluang dan potensi permintaan pasar dari rumput laut sangat tinggi.

“Bantuan dari pemerintah juga ada. Dapat bantuan sekitar dua juta rupiah untuk beli tali dan bibit,” katanya.

Budidaya rumput laut salahsatu bagian dari aktivitas keseharian masyarakat di Teluk Lombok. Namun, di sini, masyarakat juga melakukan penanaman bakau. Ada dua area pembibitan bakau di dalam hutan mangrove. Batang mangrove yang sudah tumbuh daun berdiri tegak. Tampak subur dalam polybag. Masyarakat menanam bakau di sepanjang bibir Teluk Lombok.

Hutan mangrove di sini masih tumbuh alami. Batang pohonnya tampak kekar. Akarnya kuat menancap pada lumpur. Saya dan Farid Gaban menyusuri kawasan mangrove dengan sampan. Subur sekali dengan daun-daun hijau.

“Di sini banyak kepiting. Manfaat dari bakau sangat terasa,” kata Ado. Kami duduk di depan rumah warga sambil menyeruput kopi panas. Dari dusun ini sudah ratusan ribu pembibitan bakau. Permintaan akan bibit bakau tergolong tinggi. Dusun ini menyuplai kebutuhan bakau untuk Berau, Bontang hingga Balikpapan.

“Di sini bibit bagus. Usaha pembibitan bakau juga menghasilkan uang,” katanya. Tahun 2010, Kabupaten Berau meminta bibit bakau sekitar 300 ribu bibit. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Ado juga mengajak masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu. Mereka mencari dan mengumpulkan bibit dalam hutan. Dan kemudian membesarkannya dalam kantong polybag. Harga satu polybag bibit bakau sekitar 2500 rupiah.

Masyarakat di Teluk Lombok bergeliat. Dan patut dicontoh sebagai salahsatu bentuk kemandirian masyarakat pesisir. Mereka menyadari merawat hutan mangrove membawa banyak manfaat. Tidak hanya untuk usaha konservasi saja. Namun mampu mendongkrak perekonomian warga. Kini, ia bersama anggota kelompoknya tengah merawat perkebunan karet. Luasnya sekitar 50 hektar.

“Tak ada yang susah. Paling penting kerja keras dan ada kemauan,” katanya. ***

  1. Abdul Haris
    December 20th, 2009 at 02:16 | #1

    Hai Sobat,…..terkadang kehidupan dengan ketekunan yang penuh dapat membuahkan apa yang dinamakan ASA,….that its life… teruskan berkarya wahai…. dua musafir kelana…hingga mendarat di tanjung Harapan,…selamat..

    Abdul Haris

  2. December 21st, 2009 at 02:48 | #2

    Saya pernah beberapa kali ke sini. Hanya wisata saja dan tidak sempat naik sampan he..he.. kalau wisata ke sini sangat kesulitan mencari air tawar untuk bilas badan. Baguslah kalau masyarakat sudah bergiat untuk budidaya rumput laut dan mangrove. Salam dari Bontang.

  3. Naira Senja
    December 23rd, 2009 at 04:39 | #3

    Mupeng mode on! perjalanan kalian bikin ngiriiiiiii…

  1. No trackbacks yet.