<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa</title>
	<atom:link href="http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id</link>
	<description>Menjelajahi dan merekam alam-manusia di 100 pulau Indonesia - Juni 2009-April 2010</description>
	<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 04:36:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Potret Pulau Terdepan di Sulawesi Utara</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1108</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1108#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 04:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[
Seluas 3 km2, Miangas ada di tepi Pasifik dan berdekatan dengan Mindanau (Filipina). Jika hari cerah, kita bisa melihat daratan Mindanau dari satu bukit di pulau itu. Pejabat tertinggi yang pernah datang ke sini adalah wakil presiden, yakni Bung Hatta pada 1950-an. Presiden Yudhoyono berjanji pada 2005 untuk datang ke sini. Tapi, masih janji saja.




]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="miangas" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs089.snc3/15723_10150164874895114_193937575113_11801627_5971228_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Seluas 3 km2, Miangas ada di tepi Pasifik dan berdekatan dengan Mindanau (Filipina). Jika hari cerah, kita bisa melihat daratan Mindanau dari satu bukit di pulau itu. Pejabat tertinggi yang pernah datang ke sini adalah wakil presiden, yakni Bung Hatta pada 1950-an. Presiden Yudhoyono berjanji pada 2005 untuk datang ke sini. Tapi, masih janji saja.<span id="more-1108"></span><img class="aligncenter" title="miangas" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164874900114_193937575113_11801628_3940815_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="m" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164888075114_193937575113_11802034_2391510_n.jpg" alt="" width="500" height="317" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="a" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164888095114_193937575113_11802037_6259873_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="c" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164888115114_193937575113_11802041_1235927_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="m" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs089.snc3/15723_10150164888135114_193937575113_11802044_7570508_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1108</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia di Tepi Pasifik</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1103</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1103#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 04:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1103</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Yunus
Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote adalah serpihan jingle kampanye saat pemilihan presiden Indonesia 2009 lalu. Lagu gubahan iklan mie ini milik Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kemudian mengantarkan SBY menjadi presiden Indonesia untuk kedua kalinya.
SBY pun memberikan janji pada pulau-pulau terluar Indonesia itu. Di pulau Miangas, ia akan membangun sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ahmad Yunus</p>
<p><img class="alignleft" title="miangas" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164874905114_193937575113_11801629_6416965_n.jpg" alt="" width="400" height="284" />Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote adalah serpihan jingle kampanye saat pemilihan presiden Indonesia 2009 lalu. Lagu gubahan iklan mie ini milik Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kemudian mengantarkan SBY menjadi presiden Indonesia untuk kedua kalinya.</p>
<p>SBY pun memberikan janji pada pulau-pulau terluar Indonesia itu. Di pulau Miangas, ia akan membangun sebuah bandara. Pemerintahan di Jakarta juga menyetujui pembangunan sejumlah infrastruktur. Mulai dari gedung logistik, puskesmas, sarana komunikasi, sampai tangki bahan bakar minyak. <span id="more-1103"></span></p>
<p>“Kami selalu dengan kalian di sana. Karena itu, teguhlah dalam menjaga kedaulatan NKRI,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui telephone satelit dari Kendari, Sulawesi Tenggara, Oktober 2005. Ia berjanji akan mengunjungi dan berbicara dengan masyarakat di Miangas. Termasuk di Marore, pulau lain di Talaud.</p>
<p>“Apalagi yang harus dikerjakan agar masyarakat bisa bebas dari keterpencilan dan keterisolasian yang selama ini membelenggunya,” katanya.</p>
<p>Lima tahun kemudian, Pulau Miangas punya gedung logistik, puskesmas, hingga tangki bahan bakar minyak. Namun, SBY tak mengunjungi pulau terluar ini. Ia juga tidak tahu persis kondisi kehidupan masyarakat di sana.</p>
<p>Pulau Miangas terletak di paling Utara Indonesia. Berbatasan dengan Filipina. Luas pulau ini 3,15 kilometer persegi. Masuk di gugusan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Perlu waktu tiga hari dari Manado. Ini salahsatu perjalanan panjang dari ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Sekaligus menutup perjalanan selama di Sulawesi.</p>
<p><img class="alignright" title="miangas1" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs089.snc3/15723_10150164874895114_193937575113_11801627_5971228_n.jpg" alt="" width="500" height="333" />Kami ingin melihat Miangas. Pulau yang sangat dekat dengan Tanjung Saint Agustin, Mindanao, Filipina. Jarak dari Miangas ke Filipina hanya 50, 4 mil laut. Sedangkan jarak dari Manado ke Miangas sekitar 324 mil laut.</p>
<p>Namun bagaimana potret kehidupan di Miangas dan kepulauan lainnya di Talaud? bagaimana kondisi selama perjalanan dari Manado ke Miangas? Mengapa Miangas termasuk pulau yang terisolir? Apa pentingnya, pernyataan SBY tentang Miangas? Bagamana sejarah Miangas dan apa pentingnya untuk Indonesia?</p>
<p>Dari Manado menuju Talaud</p>
<p>Dari Manado, kami naik kapal motor Queen Mary. Bermalam di kapal. Tidur di kursi papan geladak kapal. Tujuan kapal motor ini ke Talaud. Pagi hari, kami tiba di Melonguane, ibukota Kepulauan Talaud. Melonguane terletak di Pulau Karakelang. Pasirnya putih. Lautnya biru tosca.</p>
<p>Dari Melonguane kami harus menunggu kapal perintis untuk menuju Miangas. Kapal perintis adalah kapal yang disubsidi oleh pemerintah. Kapal ini mengakses pulau-pulau yang terisolir. Selain mengangkut penumpang, kapal ini juga mengangkut barang-barang. Seperti beras, semen, pipa, hingga hasil bumi. Mulai dari kopra, pala, jeruk hingga cengkeh.</p>
<p>Ada dua kapal perintis yang melayani Sangir-Talaud. Daraki Nusa dan Meliku Nusa. Kedua kapal ini singgah dari satu dermaga ke dermaga lainnya.</p>
<p>Di Melonguane, saya dan Farid Gaban tinggal di rumah Juliana Tabaru. Seorang ibu yang tinggal bersama cucunya, Margaretha Olati, duduk di kelas empat sekolah dasar. Juliana sering memasak ikan segar untuk kami. Membuatkan teh, kopi dan pisang goreng. Masakannya enak sekali.</p>
<p>Juliana Tabaru tinggal di rumah sederhana. Beratap seng, dindingnya dari tripleks dan kayu papan. Lantainya baru lapis semen. Beberapa kucing ikut tinggal di rumah ini. Ia memiliki satu televisi. Namun saluran televisi mengikuti selera tetangga. Ia tak memiliki antenna parabola untuk menangkap siaran televisi. Ketika menginap, listrik mati pada siang hari. Dan hanya menyala pada malam hari. Mulai pukul enam sore hingga pukul dua dini hari.</p>
<p>Kami mengenal Juliana dari Mamad Masrif. Seorang mahasiswa Biologi dari Universitas Syam Ratulangi di Manado. Ia tertarik dengan foto dan cerita dari perjalanan Zamrud Khatulistiwa. Ia mengajak kami untuk tinggal di rumah Juliana.</p>
<p>Di Melong, saya menyempatkan diri berenang dan snorkeling di Sara besar dan kecil. Pulau kecil yang berada di depan dermaga Melong. Pulau pasir putih dan tak berpenghuni. Hutan masih terlihat lebat. Airnya jernih. Namun kecantikan kedua pulau ini tak sebanding dengan kecantikan pada bawah lautnya. Terumbu karang banyak yang terjungkal. Banyak karang yang sudah mati. Rata dengan pasir putihnya. Pemandangan bawah lautnya cepat keruh jika air laut mulai pasang.</p>
<p><img class="alignleft" title="miangas 3" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs109.snc3/15723_10150164888115114_193937575113_11802041_1235927_n.jpg" alt="" width="500" height="333" />Kondisi serupa juga terlihat di bibir pantai Melonguane. Terumbu karang nyaris rata. Sisa bongkahan karang terlihat acak. Apa yang menyebabkan kondisi terumbu karang di Talaud berantakan? Mengapa pulau ini jauh kalah dibandingkan dengan Bunaken?</p>
<p>“Karang digunakan untuk keperluan bangunan,” kata Claudio. Ia aktif di organisasi pemuda gereja. Suasana Paskah terasa setiba di Talaud. Talaud tak memiliki gunung. Sehingga sulit mencari bahan-bahan bangunan berupa batu maupun pasir. Karang dan pasir putih jadi bahan utama untuk keperluan bangunan.</p>
<p>Tak mudah mencari informasi yang akurat soal jadwal kapal. Kami mendapatkan informasi kapal perintis akan berlabuh di pelabuhan Lirung di Pulau Salibabu. Pulau yang persis berhadapan dengan Pulau Karakelang. Sekitar jam dua siang, meluncur naik speedboat. Ombaknya terasa kuat. Setiba di pelabuhan ternyata kami mendapatkan informasi yang salah.</p>
<p>Kami segera bergegas kembali ke Melonguane. Menggunakan speedboat 40 PK Yamaha, dua mesin. Melelahkan karena kami membawa ransel cukup berat. Dan khawatir ketinggalan kapal. Setiba di Melonguane, beruntung kapal perintis Meliku Nusa masih menurunkan barang.</p>
<p>Namun ketika hendak masuk kapal, kami dicegat oleh intel. Ada sekitar lima orang dengan wajah garang. Mereka menanyakan kami datang darimana dan mau kemana. Mereka minta kartu identitas.</p>
<p>“Kami dari Jakarta. Ini KTPnya,” kata saya.</p>
<p>Saya enggan mengeluarkan kartu wartawan. Dan menyalahgunakan kartu ini untuk mendapatkan pelayanan khusus. Namun, intel yang tak menunjukkan identitas mereka, tetap ngotot. Mereka mengambil foto dan memotret identitas kami. Keterangan saya hendak ke Miangas tak cukup. Termasuk identitas pribadi.</p>
<p>Farid Gaban tidak suka dengan cara mereka memeriksa. Dan seolah kami adalah penjahat dan orang ilegal yang masuk ke republik ini. Mereka minta surat tugas. Namun, terpaksa, kami menunjukkan kartu pers. Dan akhirnya mereka membiarkan kami naik kapal.</p>
<p>Saat di Miangas, kami melapor ke Polsek, Koramil, dan kepala desa. Salahsatu petugas kepolisian di sana menggertak saya. Bau alkohol dimulutnya menyengat. Ketika singgah di Melonguane dan kembali ke Manado, dua intel berbadan besar juga memeriksa kembali identitas kami. Mereka memfotokopi identitas dan kartu wartawan.</p>
<p>Alasan pemeriksaan seperti ini karena terorisme. Mungkin mereka curiga dengan kumis dan janggut saya yang makin panjang dan liar. Apalagi kami membawa ransel dan mengambil foto maupun video. Terorisme menjadi alasan aparat kepolisian untuk bebas melakukan pemeriksaan tanpa menghormati hak sipil.</p>
<p><img class="alignleft" title="miangas4" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs089.snc3/15723_10150164888135114_193937575113_11802044_7570508_n.jpg" alt="" width="500" height="333" />Saya dan Farid Gaban tidak suka dengan perilaku aparat seperti itu. Mereka menggunakan alasan terorisme untuk memeriksa identitas kami. Kami juga tidak suka dengan cara mereka melakukan proses pemeriksaan. Kami juga tidak ingin menyalahgunakan kartu wartawan.</p>
<p>“KTP saya ditahan. Belum berani jualan,” kata Hasan Ramdani, 40 tahun, dari Bandung. Ia penjual sepatu dan sandal. Polisi memeriksa semua identitas sampai isi pesan pendek di telephone selulernya. Ia berdagang dari satu pulau ke pulau lainnya. Dari Sorong hingga Talaud.</p>
<p>Hasan tak bisa protes dengan perilaku aparat kepolisian seperti itu. Seperti aparat yang memalak kapal-kapal sayur di Selat Malaka, September 2009 silam. Ketika kami ikut bersama kapal-kapal sayur itu. Namun, siapa yang menyuarakan suara seperti Hasan Ramdani penjual sepatu dari Ciroyom, Bandung itu? Siapa yang melindungi dan menghormati hak sipil mereka sebagai warga negara republik ini?</p>
<p>Perjalanan Menuju Miangas</p>
<p>Perjalanan panjang menuju Miangas. Perlu dua malam dalam perjalanan. Kapal perintis Meliku Nusa singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Selama dalam kapal, untuk pertama kalinya kami memilih menyewa ruang tidur kapten kapal. Ruang ber-AC, tempat tidur busa, kamar mandi sendiri, dan dapat jatah satu kali makan.</p>
<p>Badan tidak terlalu lelah. Seperti ketika kami memilih kelas ekonomi. Dan tidur sembarang di geladak kapal. Mandi dan berak di kamar mandi dan toilet bersama penumpang lainnya.<br />
Menyewa kamar kapten menjadi kemewahan. Dan di ruang ini ada televisi dan dvd. Satu hari sewa kamarnya sebesar Rp 200 ribu. Sedangkan untuk biaya tiket perjalanan sebesar Rp 50 ribu untuk dua orang. Kami perlu menyewa ruang ini karena kondisi fisik dan emosi sudah mulai terasa kelelahan. Kami perlu istirahat agar segera memulihkan kondisi badan.</p>
<p>Saya memanfaatkan untuk menulis catatan perjalanan. Membaca artikel tentang Miangas dan kepulauan Talaud. Sekalian untuk mengisi battere kamera, laptop dan handphone. Menulis di kapal dan di ruang kapten punya sensasi tersendiri. Saya merasa menjadi seorang kapten kapal. Dan menulis jurnal harian untuk mengabarkan tentang kegiatan selama di kapal. Dulu, kapten-kapten menulis dengan pena dari bulu ayam dan tinta. Sekarang menulisnya menggunakan laptop.</p>
<p>Ketika menulis, saya kaget tiba-tiba jidat Farid Gaban terluka. Dan sedikit mengeluarkan darah.</p>
<p>“Saya kena kayu ketika naik kapal,” katanya dengan wajah memerah terkena sengatan matahari. Saya periksa lukanya. Robekan tidak dalam dan cukup diperban kecil. Farid Gaban tampak kelelahan. Sehabis makan siang dengan ikan goreng, ia langsung merebahkan badan di karpet. Tidur. Dengan luka perban di jidat. Dan tangan kiri yang baru saja perbannya diganti saat di puskesmas di Melonguane.</p>
<p>“Masih terasa pegal. Gatal,” katanya.</p>
<p>Kapal Meliku Nusa tiba di Pulau Miangas pada pagi hari sekitar pukul 06.00. Laut sedikit bergelombang. Kapal perintis tak bisa bersandar di dermaga. Kapal terpaksa menjauh dan speedboat milik warga menjemput penumpang dan mengangkut barang bawaan.</p>
<p>Meliku Nusa membawa beras miskin (raskin) untuk warga Miangas. Pemerintah menjual beras murah. Di Miangas harga lima kilogram beras ini sebesar Rp 17 ribu. Warga juga menurunkan belanjaanya. Mie berkardus-kardus. Sayuran hingga babi.</p>
<p>“Nama Miangas hanya dijual saja. Dijadikan proyek,” kata Epsan Pitaratu, tokoh masyarakat Miangas. Kami tinggal di rumahnya. Dan seekor anjing kecil berseliweran di dalam rumah. Ia merasa semua pembangunan di Miangas tak berguna untuk masyarakat.</p>
<p>Setelah SBY memberikan pernyataan, sejumlah bangunan berdiri di Miangas. Dari gedung logistik beras, tangki bahan bakar minyak, puskesmas hingga rencana bandara. Namun bangunan ini terlantar. Atapnya sudah retak. Kaca-kaca jendela pecah. Dan ruangan diisi dengan jemuran dan coretan-coretan. Beberapa botol minuman keras tergeletak. Rumput tumbuh liar di halaman. Tak ada petugas yang bekerja di bangunan itu.</p>
<p>“Kami bungkus minyak dengan kardus. Kalau ketahuan disita oleh petugas polisi dan kapal. Ya, sembunyilah,” kata Epsan. Tak ada kapal tangker Pertamina yang mengisi tank minyak di Miangas. Kapal perintis pun melarang penumpang membawa bahan bakar minyak dan minuman beralkohol. Satu liter minyak tanah sekitar tujuh ribu rupiah. Sedangkan harga bahan bakar minyak sekitar Rp 15 ribu perliter!</p>
<p>Gedung logistik Bulog juga kosong. Tak ada persediaan beras. Begitu juga dengan puskesmas. Tak ada peralatan medis. Kaca pecah. Kantor imigrasi Indonesia juga sepi. Pendopo kosong dan tak terawat. Termasuk bangunan karantina milik Departemen Perhubungan. Sinyal telephone hanya ada di Pos Angkatan Laut dekat Tugu Pancasila. Dan terbatas hanya untuk kirim pesan pendek.</p>
<p>“Kalau cuaca buruk dan perintis tak bisa merapat. Kami makan laluga,” kata Epsan Pitaratu. Laluga sejenis talas. Dan tumbuh di rawa Pulau Miangas.</p>
<p>Warga di Miangas masih menunggu pembangunan bandara di Miangas. Masyarakat bersedia membebaskan lahannya untuk bandara. Ada kesepakatan mengenai harga lahan sebesar 100 ribu rupiah permeter. Namun tak ada kabar lagi mengenai rencana pembangunan bandara itu. Di lahan itu tumbuh ratusan kelapa yang menjadi penopang ekonomi warga Miangas. Masyarakat mengolah kopra dengan harga pasar sekitar Rp. 2.500 perkilogram.</p>
<p>“Warga bingung mau tanam bibit kelapa di lahannya. Pohon kelapa sudah terlalu tua,” katanya.</p>
<p>Kami bertemu dengan Rebustianus Papea. Ia ketua adat yang memimpin proses Manami. Manami adalah ritual adat tahunan. Ritual ini mengatur tentang larangan mencari ikan dalam waktu dan lokasi tertentu. Tradisi ini berlangsung sejak abad ke-16. Di Kakorotan, ritual ini dikenal dengan Mane&#8217;e. Di Miangas, proses ini akan berlangsung Mei nanti. Masyarakat turun ke laut ketika surut. Dan mengambil ratusan ikan yang terperangkap di karang.</p>
<p>“Miangas ini dilupakan. Kalau tidak diperhatikan bisa ke Filipina. NKRI hanya janji-janji saja. Bicara dengan presiden tidak ada realisasinya,” kata Rebustianus Papea. Ada kesan nada marah.</p>
<p>Warga di Miangas semakin sulit ketika muncul isu terorisme di Indonesia. Miangas dan Kepulauan Talaud dianggap jalur masuknya teroris dari Filipina. Isu ini membuat lumpuh perdagangan antara warga Miangas dan Filipina. Sejak 2004 hingga sekarang perdagangan mati. Pedagang Filipina tidak lagi membeli ikan hasil tangkapan nelayan Miangas. Orang Miangas kesulitan mendapatkan barang kelontongan.</p>
<p>“Sekarang tidak ada lagi penghasilan tambahan. Cari ikan untuk dimakan saja,” katanya.</p>
<p>Saya teringat pada perjalanan sebelumnya. Di Pulau Midai, Kepulauan Riau. Pulau kecil ini penghasil kopra. Perdagangan tumbuh pada abad ke-18. Warga menjual dan berdagang dengan Malaysia dan Singapura. Namun, Soekarno melakukan propaganda “Ganyang Malaysia”. Isu ini membuat perekonomian di Midai mati. Isu terorisme mengancam nadi kehidupan macam Miangas. Dan bukan mustahil, nasibnya akan seperti Pulau Midai.</p>
<p>Kami berkeliling Miangas. Jalan kaki masuk kebun kelapa. Banyak pemuda, orangtua, aparat polisi, dan tentara yang mabuk. Minuman alkohol cap Tikus menjadi pelarian untuk mengatasi kebosanan di Miangas. Sedih melihat kehidupan di Miangas. Beberapa kali saya menolak halus ajakan untuk menengak minuman keras itu.</p>
<p>Kami diajak untuk melihat empat buah meriam. Meriam ini terletak di atas bukit. Sebuah papan kecil tertulis “Meriam Keramat”. Konon, orang yang punya niat buruk akan mengalami nasib yang sial. Setelah melihat keberadaan meriam ini. Tak ada informasi yang jelas mengenai sejarah meriam ini. Apakah milik Portugis, Spanyol atau Belanda. Meriam ini sudah berkarat.<br />
Spanyol pernah menguasai Filipina. Pulau ini dikenal dengan Poilaten atau lihat pulau di sana. Di sini banyak tumbuh pohon Palm dan kemudian dikenal dengan sebutan Las Palmas. Namun kemudian Amerika mengalahkan Spanyol. Dan jajahannya, Filipina jatuh ke tangan Amerika pada tahun 1898.</p>
<p>Amerika kemudian bersengketa dengan Hindia Belanda. Kasus ini kemudian masuk ke Mahkamah Internasional. Dan putusannya, pada 1928, mengatakan Hindia Belanda menjadi pemenang dan pemilik sah dari pulau ini. Amerika Serikat menerima keputusan itu.</p>
<p>Soekarno Hatta membacakan teks proklamasi pada tahun 1945. Dan kemudian beberapa kali melakukan pertemuan dengan Belanda hingga tahun 1949. Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatannya kepada republik ini. Namun, warga di Miangas belum tahu apakah akan ikut pada republik ini atau tidak. Warga Miangas masih melakukan perdagangan dengan warga Filipina. Mereka menguasai bahasa Tagalog. Dan tak sedikit diantara mereka sudah melakukan perkawinan. Tak ada kerumitan.</p>
<p>Pada tahun 1976 pemerintahan Indonesia dan Filipina membuat perjanjian ekstradisi yang mengakui bahwa Pulau Miangas adalah milik Indonesia. Salahsatu isi protokol perjanjian tersebut dimuat dalam sebuah tugu protokol 12 di Miangas. Ditandatangani oleh Muchtar Kusuma Atmaja sebagai perwakilan Indonesia dan Vicente Abad Santos dari Filipina.</p>
<p>Pemerintahan Indonesia menumbuhkan nasionalisme di masyarakat Miangas dengan mendirikan banyak tugu. Ada tujuh tugu. Salahsatu ditandatangai oleh LB.Moerdani. “Nasionalisme masyarakat disini sudah teruji,” kata seorang tentara koramil yang menjaga pulau ini kepada saya. Namun nasionalisme macam apa yang diinginkan oleh republik ini? Apa yang dimaksud menjaga kedaulatan NKRI yang disampaikan oleh SBY dalam pidato jarak jauhnya?</p>
<p>Di ujung pulau, dekat sebuah lapangan sepakbola, ada sebuah sekolah dasar. Ratusan anak sekolah tanpa alas kaki berjejer rapi. Membentuk barisan hendak upacara. Satu guru memimpin barisan itu. Bendera merah putih berkibar di tiang bendera. Pagi itu, mereka menyanyikan lagu karangan L. Manik.</p>
<p>Satu nusa satu bangsa<br />
Satu bahasa kita</p>
<p>Tanah air pasti jaya<br />
Untuk selama-lamanya</p>
<p>Indonesia pusaka<br />
Indonesia tercinta</p>
<p>Nusa bangsa dan bahasa<br />
Kita bela bersama</p>
<p>Saya sudah lama tak mendengar lagu ini. Semenjak sekolah dasar akhir tahun 80&#8242;an. Saya tertegun mendengar lagu ini. Membayangkan bahwa satu bangsa, satu bahasa dan satu nusa adalah pilihan akhir. Sebuah mantra yang hendak menumbuhkan rasa patriotik. Seperti tugu-tugu yang memancang di Pulau Miangas.</p>
<p>Namun, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi Samudera Pasifik yang bergemuruh.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1103</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kendari ke Kolo dengan Si Kapal &#8216;Siput&#8217; Haspita Jaya</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1100</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1100#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 05:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1100</guid>
		<description><![CDATA[ 

Oleh Ahmad Yunus

Sabtu pagi (13/03). Awalnya saya dengan puluhan penumpang lainnya adalah asing. Tak saling mengenal satu sama lainnya. Keadaan dan perjalanan akhirnya membuat kami menjadi akrab. Saling bertegur sapa. Berbagi senyuman. Rokok hingga makanan ala kadarnya.
 
Awalnya saling menjaga barang bawaan masing-masing. Waspada ada pencopet dan maling. Tapi lama-lama penumpang saling menjaga dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Oleh Ahmad Yunus</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sabtu pagi (13/03). Awalnya saya dengan puluhan penumpang lainnya adalah asing. Tak saling mengenal satu sama lainnya. Keadaan dan perjalanan akhirnya membuat kami menjadi akrab. Saling bertegur sapa. Berbagi senyuman. Rokok hingga makanan ala kadarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Awalnya saling menjaga barang bawaan masing-masing. Waspada ada pencopet dan maling. Tapi lama-lama penumpang saling menjaga dan mengingatkan. Tapi saya tahu keakraban ini hanya sementara. Ujungnya, kami akan berpisah dan mengutuk keadaan selama di kapal. <span id="more-1100"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sedikit corat coret membunuh kesuntukan. Jangan sampai berhalusinasi selama perjalanan. Tulisan ini muncul seadanya selama dalam perjalanan kapal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sejak pagi tadi penumpang saling membunuh waktu. Ada yang main kartu domino. Hingga pacaran di belakang kapal. Saya pilih membaca buku soal Ekspedisi Papua yang dilakukan oleh Kompas 2007 silam. Lumayan menambah bekal pengetahuan. Sisanya membaca buku Lonely Planet soal Indonesia. Ini buku ampuh sebagai pegangan<span> </span>keliling Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Si kapal &#8217;siput&#8217; perutnya buncit. Sekali muntah isinya banyak. Mulai dari berkardu-kardus mie, ikan kering, telur, buah-buahan, motor, kulkas hingga ratusan sack semen. Kapal kayu ini panjangnya sektiar 25 meter. Bagian depan untuk nahkoda. Dua ruang selebar lemari pakaian satu-satunya ruang <em>Very Important Person</em>. Ruang pribadi. Tidur sendirian dan dapat kunci pribadi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ruang tengah khusus penumpang. Berjejer kasur plastik tipis. Ruang belakang khusus mesin, dapur dan toilet. Asap dan panas mesin campur aduk dengan hawa penumpang. Kentut, bau muntah dan keringat. Sedikit bumbu garam yang menguap dari laut. Penghuni ruang ini kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kami tak memilih berada di ruang VIP maupun ruang penumpang. Kami pilih berada di atas atap kapal. Berlantai papan. Udara jauh lebih segar. Langsung dari laut. Pemandangan lmenghadap laut dan pulau. Pelindung dari terik matahari hanya selembar terpal biru. Dan kalau siang terasa bau gosong plastik terpal. Kebanyakan penumpang laki-laki lebih memilih di sini. Lebih bebas. Merokok sepuasnya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kemarin perut kapal sempat menabrak kapal. Juru mudi tak melihat kapal berada di daerah karang. Bunyi terdengar keras. Beruntung tak merobek perut kapal. Kapal langsung melaju mencari laut dalam. Dermaga pertama kami tiba di Kaleroang, Kecamatan Salabangka. Kapal bersandar di sebuah pasar. Ramai dengan penjual ikan kering, sayuran dan buah-buahan. Kami menyeruput kopi dan makan malam di sini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sabtu malam sekitar pukul 12.00 kapal bergerak meninggalkan dermaga. Hujan turun cukup deras. Angin cukup kuat. Air hujan masuk dari samping kiri kanan terpal. Awak kapal menggelar terpal untuk menutup alas. Celana saya basah terkena cipratan hujan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Namun saya tak peduli. Badan sudah terasa lelah setelah berjemur seharian. Tidur tetap pulas. Walau harus menahan dinginnya gempuran angin laut. Sekitar jam 06.00 kapal tiba di Morowali. Isi perut si siput kembali muntah. Mengeluarkan barang bawaan penumpang dan titipan. Kami mencari kopi untuk menghangatkan tubuh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bagaimana bertahan selama di kapal? saya sedikit membagi jurus-jurusnya. Jurus selama di kapal adalah berdamai dengan keadaan. Dan kegiatan paling mujarab adalah tidur. Tidur seadanya dan bermimpi berada di atas kapal pesiar. Minum wine dan makan sea food. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hari Minggu ini (14/03) si kapten membagi bantalnya untuk saya. Mungkin agar tidur lebih nyenyak. Saya tertelap. Angin sepoi-sepoi mempercepat saya jatuh ke dalam mimpi. Dua jam saya tertidur hari ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kapal kayu ini melayani rute Kendari-Kolo satu kali dalam seminggu. Singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Kapal ini tetap bergerak dikala cuaca buruk yang jatuh pada setiap bulan Juni dan Juli di Tenggara Sulawesi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hari pertama awak kapal memberi jatah nasi ransum. Nasi dan lauk tongkol. Plus, kopi dan teh manis. Hari kedua, masih dengan menu yang sama. Namun tak ada kopi dan teh manis. Nah, ini yang paling repot. Kopi obat paling mujarab untuk menahan terik matahari. Kami sering berhalusinasi; rasanya ingin menyeruput kopi atau menikmati es campur. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya tetap menikmati dan tidak mengeluh dengan kondisi perjalanan. Ini perjalanan romantis untuk menikmati potret kehidupan masyarakat di kepulauan. Bertegur sapa dengan penumpang. Ini bagian dari seni perjalanan. Bagi saya ini tetap pengalaman yang baru walau sudah beberapa kali menggunakan kapal dan melihat pulau-pulau sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pengalaman seperti ini tak mungkin didapatkan ketika berada di Jawa. Pembangunan rasanya membawa keterasingan. Setiap orang berlomba menginginkan fasilitas yang nyaman dan pribadi. Sehingga rela mengeluarkan uang lebih banyak demi kenyamanan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Namun tetap saja bertabrakan ketika jutaan orang menginginkan hal yang sama. Kenyamanan menjadi sesuatu yang absurd. Tidak ada lagi ruang bertegur sapa. Selain memaki sesama pengguna jalan umum, misalnya. Atau menutup jalan tol, demi kelancaran dan kenyaman rombongan presiden. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya melihat semakin dekat denyut kehidupan masyarakat. Mereka sudah bekerja keras untuk bertahan hidup. Setiap malam mereka mencari ikan di tengah laut. Menjaga rumput laut agar tak dimakan penyu dan ikan. Saya tahu, hasil tangkapan dan kerja mereka tak sebanding dengan harga. Pasar akan menikam harga ikan semurah-murahnya. Kehidupan nelayan jauh dari sejahtera. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Beruntung, alam negeri ini masih setia menyediakan ikan yang melimpah. Dan menumbuhkan buah-buahan, umbi dan padi di darat. Agar anak negerinya tak kelaparan dan mengangkat senjata. Namun mengapa negeri masih tersesat? mengapa semakin terasing di negerinya sendiri? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Minggu sore sekitar pukul 16.30 akhirnya kapal bersandar di Desa Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato. Desa ini kecil dihimpit oleh bukit. Warga membangun rumah kayu di bibir teluk. Beberapa mobil kijang menunggu penumpang. Dari Kolo kami akan bergerak menuju Luwuk. Perjalanan darat ini sekitar empat jam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya bergumam dan bernyanyi. Dekat bendera merah putih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Indonesia tanah air beta, pujangga abadi nan jaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di sana tempat lahir beta</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di buai dibesarkan bunda</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tempat berlindung di hari tua</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sampai akhir menjemput masa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Farid Gaban ikutan nyanyi. Menghibur diri. Akhirnya perjalanan laut selesai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di ujung dermaga beberapa unit mobil Kijang sudah menunggu. Mereka siap mengangkut penumpang ke beberapa tujuan. Tujuan berikutnya menuju Luwuk. Alamak! seperti iklan Kijang. Nenek, kakek, paman, bibi, ayah, kakak, adik semua masuk ke dalam mobil. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ada sekitar 17 orang dalam mobil. Dua sopir. Sisanya penumpang. Tak ada ruang gerak untuk kaki. Anak-anak kecil merengek kecapean. Barang bawaan penuh. Semua penumpang dengan kondisi yang sama. Tidak mandi selama dua hari!. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;DejaVu Sans Condensed&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Perjalanan panjang. Saya sulit untuk tidur di dalam mobil. Jalan rusak. Banyak lubang. Per mobil tak mempan menahan beban. Rasanya menusuk sampai tulang belakang. Pantat panas sekali. Huh&#8230;lelah sekali hari ini. Perjalanan dua hari satu malam penuh tantangan.*** </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1100</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Wakatobi: Menengok Surga Nyata Bawah Laut</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1096</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1096#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 04:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad  Yunus 
Dua hari perjalanan dari  Bira menuju Bau-bau. Naik kapal feri satu malam. Kemudian dilanjutkan  naik speedboat menuju Bau-bau. Laut begitu tenang sepanjang perjalanan.  Angin kuat yang berlangsung pada musim barat tak muncul. Seperti ketika  perjalanan di Takabonerate. Angin dan ombak mengocok kapal. 
Bau-bau, Pulau Buton  berdetak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Oleh Ahmad  Yunus</span> </strong></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dua hari perjalanan dari  Bira menuju Bau-bau. Naik kapal feri satu malam. Kemudian dilanjutkan  naik speedboat menuju Bau-bau. Laut begitu tenang sepanjang perjalanan.  Angin kuat yang berlangsung pada musim barat tak muncul. Seperti ketika  perjalanan di Takabonerate. Angin dan ombak mengocok kapal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Bau-bau, Pulau Buton  berdetak. Banyak kapal dagang. Kami tiba menjelang sore hari. Seorang  kenalan baru mengajak kami keliling Bau-bau. Jalan mulus. Naik ke puncak  menuju Benteng Keraton Buton. Bentengnya rapi. Terbuat dari bebatuan  karang. Benteng ini dibuat pada abad ke 16 dibawah Sultan Wolio. Dari  benteng bisa melihat pemandangan Bau-bau. Hamparan laut dan deretan  kapal. </span> <span id="more-1096"></span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Arung Palaka bersembunyi  di sini. Di sebuah goa,” kata La Ode Is<strong>. </strong> Kami minum kopi. Dan satu piring goreng pisang. Di dermaga sambil melihat  kapal pinisi yang berlabuh. Waktu sekolah dasar dulu, saya mengenal  Pulau Buton sebagai penghasil aspal. Selain sejarah tentang Kerajaan  Buton. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Setiap tahunnya, anak-anak  pelajar dari Australia, Inggris datang ke sini. Bikin penelitian soal  terumbu karang dan hutan, “ katanya. Pelajar asing ini mengikuti tradisi  dan jejak dari Alfred Russel Wallacea. Biologis dari Inggris. Ia mampir  di pulau ini dan melakukan sejumlah riset. Dan mencatatnya menjadi sebuah  buku, <em>The Malays Archipelago.</em></span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami berangkat menuju  Wanci di Pulau Wangi-wangi. Naik kapal penumpang. Terbuat dari kayu.  Tiga lantai. Kami tidur lelap di lantai tiga kapal. Kapal tiba Sabtu  pagi, (6/03). Udara sejuk. Laut tenang. Pulau kecil menyapa.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saharudin dari TNC-WWF  Wakatobi menjemput dan mengajak kami istirahat dikantornya. Ia menunjukkan  peta wilayah Taman Nasional Wakatobi. Wakatobi adalah sebuah singkatan  untuk Pulau Wanci, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko. Ada  satu pulau kecil, namanya Pulau Runduma. Pulau ini masuk wilayah Wakatobi. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Harusnya Wakatobiru.  Buton telah mengatur dengan rapi tata kelola di sini, ” katanya. Mulau  dari darat hingga masyarakat di kepulauan. Sampai sekarang tradisi Buton  masih dilakukan oleh masyarakat. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami akan melihat kehidupan  empat pulau ini. Dari keindahan bawah lautnya dan kehidupan masyarakat  kepulauan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Di sini ada masyarakat  Bajoe juga. Namun sudah menetap dan bikin rumah di tengah laut. Wakatobi  memiliki barisan terumbu karang terpanjang dunia setelah Australia.  Banyak tempat pemijahan ikan-ikan,” kata Saharudin. Mulai dari Kerapu,  Kakap, Tuna, Tongkol hingga Sunu. Kami cerita soal perjalanan yang tengah  kami lakukan. Perjalanan di Sulawesi titik masuk untuk meliput pulau-pulau  di kawasan Indonesia Timur. </span><br />
<span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Hari pertama di Wangi,  Farid Gaban bersemangat ingin menyelam. Alibasaru dari WWF mengajak  kami melakukan penyelaman di Matahora bagian timur Wangi-wangi. Dari  Wanci sekitar setengah jam naik motor. Pulau Matahora adalah pulau kecil  di Wangi-wangi. Pasir putih. Pohonnya masih lebat. Di sini, saya snorkeling.  Dan Farid Gaban melakukan penyelaman. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Lamun tumbuh subur di  Pulau Matahora. Namun karangnya banyak yang rusak. Nyaris tak ada karang  yang timbul di bibir pulau. Termasuk ikan-ikan karang. Setengah jam  saya menyisir pulau. Pemandangan hampir sama; karang-karang berantakan.  Sedih melihatnya. Apalagi jauh-jauh hari saya mendengar bahwa Wakatobi  adalah salahsatu dan memiliki terumbu karang terbaik di dunia. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saya baru tahu kemudian  setelah bertemu dengan Lajuma Ali, 60 tahun. Salahseorang warga Matahora.  Usianya sudah tua. Namun ototnya terlihat keras. Ia membakar rokok dengan  tangan kanannya. Saya menelisik di tangan bagian kirinya. Jari-jarinya  hilang. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Bom ikan meledak saat  saya pegang. Merobek pipi dan dada,” katanya sambil terkekeh-kekeh.  Ledakan bom melempar dirinya ke laut. Ia sadar bahwa bom meledak sebelum  ia lempar ke laut. kejadian ini berlangsung pada tahun 1984 di Seram  Barat, Maluku. Namun ia tak jera dengan peristiwa itu. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Ratusan kali sudah  bikin bom. Empat kali ditahan aparat. Saya tetap bikin bom,” katanya.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Bom ikan menghancurkan  karang. Ikan langsung terkapar dan melayang. Bahan bom terbuat dari  potasium. Dekade tahun 70&#8242;an hingga 2000 praktik bom ikan masih berlangsung.  Ia mengaku mudah mendapatkan bahan peledak. Kapal-kapal membawa bahan  peledak dari Jawa, Batam dan Singapura. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Cap matahari dan obor.  Beli satu peti, “ katanya. Ia juga membeli bahan peledak bubuk mesiu  dari seorang tentara. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Tahun 1998 terjadi sejumlah  kerusuhan. Termasuk konflik di Maluku. Lajuma ikut dalam konflik itu  dan kemudian mengungsi ke Pulau Wangi-wangi dengan ratusan pengungsi  lainnya. Ia meninggalkan rumah, kebun dan kapalnya. Di Wangi-wangi beserta  puluhan pengungsi lainnya mendirikan gubuk di Matahora. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ia tahu di Matahora banyak  ikan. Terumbu karang masih tumbuh subur. Ia harus bertahan hidup.   Dan bom menjadi alat efektif paling mudah untuk merontokkan ikan-ikan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Setiap hari terdengar  hingga tujuh kali pengeboman. Banyak masyarakat lokal protes. Namun  mereka diancam dengan bom itu,” kata Alibasaru dari WWF. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ia tahu pengungsi masih  trauma dengan konflik di Maluku. Mereka datang ke pulau ini untuk bertahan  hidup. Tak mudah mencari solusi agar mereka meninggalkan praktik kejam  itu. Apalagi bahan baku peledak juga beredar di pulau ini. Masyarakat  mengenalnya dengan “pupuk”. Harga satu kilogramnya hanya delapan  ribu rupiah. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">WWF masuk ke Wakatobi  pada tahun 2003. Lembaga ini bekerja untuk melakukan upaya konservasi  di kepulauan Wakatobi. Salahsatunya memberikan kesadaran kepada masyarakat  lokal. Praktik bom juga ilegal. Tahun 2004, polisi mengamankan satu  kapal yang membawa lima ton bahan peledak. Polisi juga melakukan penyitaan  sejumlah bahan peledak yang masih tersisa di masyarakat. “Kemudian  kasus ini menurun,” katanya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Minggu pagi, (7/03) kami  bergerak menuju Pulau Kaledupa. Perjalanan ditempuh sekitar dua jam  menggunakan speedboat. Di Wakatobi, speedboat dan perahu kayu penumpang,  punya jadwal. Tidak sulit untuk melihat dan menjangkau satu pulau dengan  pulau lainnya. Ini yang berbeda ketika kami melakukan perjalanan ke  Takabonerate. Tidak ada jadwal penumpang yang jelas dari Selayar menuju  pulau lainnya. Sehingga kami menyewa kapal dengan cukup mahal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal speedboat menyandar  di dermaga kecil perkampungan suku Bajoe. Suku ini terkenal sebagai  pengembara lautan. Satu keluarga mereka bergerak menggunakan sampan.  Dari satu pulau ke pulau lainnya. Semua kegiatan sehari-hari dilakukan  di atas sampan mereka. Saya pernah film dokumenter tentang suku ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Mereka termasuk penyelam  tradisional yang handal. Memanah ikan hingga mencari teripang. Namun,  mereka sudah mengenal mesin kompressor. Kompressor dan tehnik penyelaman  yang liar membuat banyak penyelam menyebabkan lumpuh dan mati. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Di Kaledupa, mereka membangun  kampung sendiri di tengah laut. Mendirikan pondasi dari batu karang.  Dan kemudian mendirikan rumah panggung. Mereka mengambil jarak dengan  penduduk setempat yang tinggal di daratan. Atau bisa jadi sebaliknya.  Namun, mereka adalah komunitas suku yang kecil. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Siang itu, kapal speedboat  merapat di dermaga kecil. Saya melihat deretan perkampungan suku Bajoe.  Anak-anak bermain sampan. Begitu juga dengan orangtuanya yang tengah  memperbaiki rumput laut. Satu bangunan sekolah sudah berdiri di dalam  perkampungan ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Dulu mereka sering  mengalami kekerasan. Selalu diusir jika menetap di satu pulau,” kata  Saharudin. Saya ingin tahu penyebabnya. Mengapa suku ini menjadi ancaman  dan sering mengalami kekerasan. Apa yang menjadi sumber konfliknya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Secara psikologis  ada perasaan takut karena sejarah,” kata La Beloro dari Forum Kahedupa  Toudani atau Forkani. Forum ini beranggotakan nelayan, petani rumput  laut, dan petani bawang merah. Mereka mendirikan koperasi kecil untuk  membantu masyarakat di Kaledupa. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Sejarah panjang sejak  Kerajaan Buton berdiri. Hingga peristiwa DI/TII yang dipimpin oleh Kahar  Muzakkar. Mereka dianggap pengikut Kahar Muzakkar. Menurutnya, banyak  kasus pengeboman ikan juga dilakukan oleh suku ini. Saya belum tahu  persis kebenaran ini. Namun , saya melihat di Kaledupa ada pengelompokkan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Tapi mereka masih  mengambil air dan es dari kami. Proses pertemuan sosial dilakukan di  pasar. Masih ada barter. Jangan sampai ada konflik dengan suku ini,”  kata La Beloro. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Mereka pelaut ulung.  Tahu soal jenis ikan yang hidup di setiap terumbu karang,” kata Kamaludin,  petani rumput laut. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami tak sempat masuk  dan liputan di perkampungan Bajoe ini. Pengetahuan kami soal suku ini  masih kecil. Dan kami tak ingin membangun opini dan membangun asumsi  yang buruk tentang mereka. Kami memang ingin melakukan liputan khusus  soal suku ini. Ikut dengan sampan mereka dan mengikuti pengembaraan  mereka dilautan. Perubahan macam apa yang terjadi dalam kehidupan Bajoe?  Sampai kapan mereka akan bertahan menjadi pengembara lautan? Suku Bajoe  adalah warga negara. Mereka juga harus mendapatkan hak yang sama. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami bergerak di Pulau  Hoga. Di sini ada sekitar 150 <em>cottage </em> kecil. Pemiliknya adalah nelayan. Kami senang penduduk lokal bisa mendirikan  penginapan. Setiap pertengahan tahun pondok mereka selalu ramai oleh  wisatawan. Kami melakukan snorkelling dan diving. Terumbu karangnya  sangat cantik. Warna-warni. Ikan kecil terlihat riang gembira. Warga  lokal menjadi pemandu dan pengurus dive center. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Seorang <em>dive master, </em> yang bekerja di Operation Wallacea bercerita bahwa banyak peneliti bawah  laut yang datang ke Wakatobi. Mereka mendirikan sebuah stasiun penelitian  di pulau ini. Ada ruang kelas, dapur umum dan peralatan diving. Peneliti  datang dari kampus Inggris dan Amerika. Mereka membangun Pulau Hoga  sebagai pusat penelitian kelautan internasional. Menurut informasi dari  situs mereka, ada sekitar 50 penelitian akademis yang telah dilakukan.  Serta artikel dalam jurnal-jurnal internasional. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saya kagum dengan kawasan  Wakatobi. Kelak, kawasan ini bisa menjelma menjadi salahsatu pusat laboratorium  penelitian bawah laut dunia. Saya membayangkan akan banyak hasil penelitian  yang dilahirkan dari pulau ini. Penelitian yang membantu upaya-upaya  konservasi, memperkaya ilmu pengetahuan hingga meningkatkan kesejahteraan  masyarakat lokalnya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Wakatobi kaya dengan  ikan-ikan konsumsi bernilai tinggi. Jumlahnya sangat melimpah. Namun  pengelolaan, pengolahan hingga membangun pasarnya masih ditangani secara  tradisional. Ikan kerapu hingga Sunu yang bernilai tinggi hanya dibandrol  cukup murah. Satu ikat ikan hanya sekitar 20 ribu rupiah. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Hasil produksi rumput  lautnya juga tinggi. Satu petani rumput laut bisa menghasilkan satu  hingga lima ton setiap satu bulan setengah. Namun harga rumput laut  di sini hanya dibandrol sekitar tujuh ribu rupiah. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Jaring rumput laut terlihat  membentang di Kaledupa. Di sini saya juga melihat ada <em>Sero.</em> Alat  tangkap tradisional khas masyarakat Buton. Bentuknya seperti manusia.  Kepala menjadi penampung ikan. Alat ini masih bertahan dan digunakan  oleh masyarakat nelayan lokal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ikan dan rumput laut  adalah bisnis masa depan. Keduanya bertumpu pada alam laut yang sehat.  Wakatobi merupakan taman nasional. Memiliki keanekaragaman hayati yang  sangat tinggi. Ini adalah pundi-pundi masa depan. Apalagi Wakatobi bagian  dari jantungnya segitiga kawasan terumbu karang dunia. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pengelolaan lingkungan  yang tepat dan ramah lingkungan harus mendongkrak perekonomian masyarakat  lokalnya. Mereka memerlukan pengetahuan, manajemen, pendampingan hingga  menjaring pasar. Pemerintah dan lembaga-lembaga lokal maupun internasional  harus membantu masyarakat di Wakatobi. Tak ada artinya jika kekayaan  alam yang melimpah hanya menjadi kutukan kemiskinan dan kelaparan. Ibaratnya,  ayam mati dilumbung padi.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Salahsatu skema yang  bisa dikembangkan adalah pengolahan ikan dan rumput laut secara organik.  Mulai dari penangkapan ikan, penanganan, pengolahan hingga pemasaran.  Wakatobi memungkinkan untuk proses ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saya ingat Flores. Di  sana ada pengolahan mete secara organik. Jambu mete tumbuh subur di  lahan yang tandus dan berbatu. Swisscontact membantu manajemen. Dari  lahan pertanian, pengolahan hingga pemasaran. Mete ini mendapatkan sertifikasi  organik internasional. Mereka membangun pasar internasional. Petani  jambu mete mendapatkan harga yang pantas dan jauh melebihi harga lokal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Mengapa sistem ini tidak  diterapkan untuk Wakatobi? Ikan dan rumput laut menjadi basis perekonomian  masyarakat lokal. Mengapa di sini tidak ada pengolahan ikan? mengapa  di sini tak ada pabrik es? bagaimana pemerintah mensubsidi kebutuhan  minyak untuk para nelayan? </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Wakatobi jelas jauh lebih  subur ketimbang Flores. Infrastruktur di sini juga sudah baik. Listrik  dan jalan sudah ada. Di Wangi-wangi dan Pulau Tomia juga ada bandara  kecil. Setiap minggu pesawat terbang menuju bandara internasional Hasanuddin  di Makassar. Namun mengapa kekayaan alam ini belum mendongkrak kehidupan  masyarakatnya? </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Basis-basis organisasi  masyarakat di Wakatobi juga sudah tumbuh. Banyak nelayan, petani rumput  laut bergabung dalam organisasi lokal ini. Forkani memiliki anggota  hampir 500 orang. Begitu di Tomia berdiri satu organisasi kecil, Komunto.  Mereka memiliki radio komunitas untuk meyampaikan kegiatan dan kondisi  di masyarakat. Ini bisa menjadi modal untuk menggerakan ide soal pengolahan  ikan dan rumput laut secara organik. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Kita selalu mengawasi  kondisi laut. Jangan sampai ada bom dan penggunaan bius,” kata La  Beloro. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami banyak melakukan  diskusi dengan warga lokal. Dengan nelayan dan petani rumput laut. Saya  melihat sudah banyak upaya kerja keras dari masyarakat. Mereka ingin  sejahtera. Namun pasar dan pengelolaan manajemen daerah belum mampu  mendongkrak perekonomian lokalnya. Pemerintah perlu turun tangan dan  membantu masyarakatnya. Membangun satu model kecil usaha pengolahan  ikan dan rumput laut secara organik. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami berjalan mengelilingi  kampung. Memotret kehidupan masyarakatnya. Dan melihat satu mobil kijang <em> Innova</em> untuk setiap kecamatan. Saya heran mengapa pemerintah lokal  perlu <em>Innova</em>. Pulau-pulau di Wakatobi relatif kecil. Dengan sepeda  motor sudah cukup untuk mengelilingi kondisi pulau. Bukankah pabrik  es lebih perlu dan mendesak ketimbang satu unit <em>Innova</em>?</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami senang macam Forkani  dan Komunto bekerja keras melakukan pemberdayaan dengan masyarakat.  Ibaratnya, komunitas ini membantu dan melayani anggotanya sendiri. Usaha  ini penting ketimbang menunggu umpan bola dari pemerintahan. Mereka  juga perlu bekerja keras untuk mendesak agar pemerintahan di Wakatobi  membantu masyarakatnya. Bukan menghamburkan uang daerah dengan membeli  kijang <em>Innova</em>.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Kaledupa kami naik  speedboat menuju Pulau Tomia. Pulau kecil namun di sini banyak kapal  dagang. Mereka berlayar hingga ke Timika, Papua. Saya semakin tahu banyak  kapal dari tenggara ini yang melayani perdagangan. Mulai ke Flores,  Maluku hingga Papua. Mereka membawa pakaian dan komoditas sehari-hari. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Di Tomia kami menginap  di rumah Saharudin. Makan ikan. Minum kopi. Dan sempat melakukan snorkeling  dan diving. Mengasyikan melihat hutan terumbu karang. Ratusan ikan penuh  warnai-warni. Sempat melihat satu ekor penyu menari di atas terumbu  karang. Termasuk rombongan ikan Barakuda. Ini termasuk jenis ikan predator!</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Kalau rombongan begitu  tidak akan menyerang. Kecuali satu atau dua ekor Barakuda,” kata Saharudin.  Saya tersenyum dan tidak membayangkan jika Barakuda menyerang saya.  Mungkin keganasan Barakuda mirip ikan Piranha yang hidup di sungai-sungai  hutan Amazon, Brasilia. Satu jam bisa menguliti satu ekor kerbau liar. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pulau Binongko adalah  pulau terakhir yang kami lihat. Kami menyewa kapal kecil. Matahari membakar  kulit. Terik sekali. Laut teduh dan membuat kami tertidur di atas kapal  kecil. Laut dangkal terlihat berada di bibir pulau. Warna laut hijau  toska. Terlihat warna-warni ikan dan terumbu karang. Rasanya ingin sekali  nyebur di laut. Dan mendinginkan badan yang terbakar matahari. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pulau Binongko terkenal  dengan produksi parang, pacul hingga linggis. Pulau ini dikenal Pulau  Tukang Besi. Pandai besi bekerja di gubuk-gubuk kecil. Membakar plat  besi-besi sisa per mobil. Mereka membuat tungku secara tradisional.  Dari drum dengan bahan bakar arang. Satu perempuan tengah menjaga api  agar pembakaran stabil. Mendorong satu tongkat kecil untuk memompa api.  Sistem kerjanya seperti pompa ban. Pandai besi mengambil godam dan kemudian  menghajar besi yang masih menyala merah.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saat kerusuhan di Maluku  permintaan terhadap parang dari Binongko sangat tinggi. Satu parang  mereka jual hingga 50 ribu rupiah! motifnya hanya bisnis saja. Produk  dari Binongko juga mereka jual hingga Papua dan kepulauan Riau. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Binongko kami kembali  ke Tomia. Istirahat satu malam dan pada pagi hari kami kembali pulang  menuju Wanci. Perjalanan menggunakan perahu kayu. Banyak cerita dan  catatan dari lapangan. Saya punya kesan, Wakatobi adalah kepulauan yang  sangat kaya. Kekayaan alam, ikan, rumput laut serta pariwisata bisa  menjadi modal untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakatnya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Di sini, saya berdoa  agar kekayaan alamnya tidak menjadi kutukan. Saya jatuh cinta dengan  sejumput kehidupan di Wakatobi. Seorang nelayan tua, La Asiru dari Desa  Kulati memberikan petuah dan menjadi laut adat; Kami mengaturnya dengan  kearifan adat kami. Sehingga sampai kapanpun dia tetap milik kami.*** </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1096</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelam di Hoga Channel Wakatobi</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1093</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1093#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<category><![CDATA[Underwater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1093</guid>
		<description><![CDATA[
Salah satu lokasi penyelaman terbagus di Wakatobi, di selat antara Pulau Kaledupa dan Pulau Hoga.









]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="hoga2" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs444.ash1/24486_10150129178735114_193937575113_11356877_6739761_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Salah satu lokasi penyelaman terbagus di Wakatobi, di selat antara Pulau Kaledupa dan Pulau Hoga.</p>
<p><span id="more-1093"></span><img class="aligncenter" title="hoga1" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129178740114_193937575113_11356878_2291109_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129178750114_193937575113_11356879_2505500_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="h" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129178755114_193937575113_11356880_385219_n.jpg" alt="" width="500" height="350" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="g" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129178775114_193937575113_11356881_2798_n.jpg" alt="" width="408" height="500" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="f" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129195275114_193937575113_11356893_5217091_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="h" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129195290114_193937575113_11356894_5453673_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="g" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129195295114_193937575113_11356895_7188028_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="g" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129213280114_193937575113_11356934_3019587_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="g" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129213305114_193937575113_11356936_4227776_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1093</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hoga Community Based Eco-Tourism</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1089</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1089#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1089</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua dive-center utama di Wakatobi. Yang satu Wakatobi Dive Resort, sangat eksklusif milik orang Swiss. Yang kedua dioperasikan oleh Operation Wallacea dan dijalankan oleh warga lokal, para tamu menginap rumah milik penduduk. Kami memilih dan mendukung yang kedua.






]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="hoga" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129056565114_193937575113_11356670_288669_n.jpg" alt="" width="500" height="333" />Ada dua dive-center utama di Wakatobi. Yang satu Wakatobi Dive Resort, sangat eksklusif milik orang Swiss. Yang kedua dioperasikan oleh Operation Wallacea dan dijalankan oleh warga lokal, para tamu menginap rumah milik penduduk. Kami memilih dan mendukung yang kedua.</p>
<p><span id="more-1089"></span><img class="aligncenter" title="hoga1" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129056580114_193937575113_11356671_5623429_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga2" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129056555114_193937575113_11356669_3286802_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga2" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129056605114_193937575113_11356672_5556162_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga3" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129056615114_193937575113_11356673_8368732_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga4" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150129118250114_193937575113_11356751_7106515_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="hoga" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150129137730114_193937575113_11356774_2510381_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1089</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bambu Laut, Janda Kompresor, dan Ikan kering</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1087</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1087#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Yunus

Klakson feri di Pelabuhan  Bira menyalak. Kami bergegas masuk. Truk dan beberapa bis terlihat di  dalam perut feri. Ombak terasa kuat. Beberapa kali badan feri terasa  bergetar. Angin pada musim barat terasa kuat. Sekitar dua jam berlayar.  Akhirnya, kami tiba di Pelabuhan Pamatatta, Pulau Selayar, 
Penumpang dan kendaraan  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Oleh Ahmad Yunus</span><br />
</strong></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Klakson feri di Pelabuhan  Bira menyalak. Kami bergegas masuk. Truk dan beberapa bis terlihat di  dalam perut feri. Ombak terasa kuat. Beberapa kali badan feri terasa  bergetar. Angin pada musim barat terasa kuat. Sekitar dua jam berlayar.  Akhirnya, kami tiba di Pelabuhan Pamatatta, Pulau Selayar, </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Penumpang dan kendaraan  muntah dari perut feri. Selayar tengah memperluas dan memperbaiki fasilitas  pelabuhan ini. Dermaga tampak segar. Bantalan karet penahan kapal masih  empuk. Pelabuhan ini titik keluar-masuk barang dan penumpang dari Selayar  maupun dari Bira. Pelabuhannya memiliki dua dermaga. Tak banyak kegiatan  di pelabuhan selain keluar-masuk kapal feri. Kapal-kapal tradisional  milik nelayan maupun pengangkut barang terlihat bersandar.<span id="more-1087"></span> </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Pamatatta menuju  Benteng sekitar satu jam. Jalan kecil. Meliuk dan menyusuri pesisir  pantai. Banyak kebun kelapa. Tak ada transportasi umum dari pelabuhan  ke jantung kota pulau ini. Selain ikut di bis atau truk yang turun dari  feri. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Benteng adalah ibukota  kabupaten Pulau Selayar. Kota kecil menghadap laut. Pasar umumnya kecil.  Masih banyak deretan rumah panggung dari kayu papan. Jalan utama bersih.  Mungkin mirip jalan perumahan di Bandung atau Makassar. Tak ada kemacetan.  Satu dua kendaraan mobil. Sisanya oleh sepeda motor dan becak. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ical dari Coremap menjemput  dan membawa kami untuk minum teh hangat. Berbicara soal perjalanan kami  dan rencana di Selayar maupun kawasan Taman Nasional Laut Takabonerate.  Kami bergabung dan mendapatkan tumpangan gratis di sekretariat Coremap.  Rumah panggung dari papan kayu. Tak ada meja. Kebanyakan pemuda seusia  saya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dua hari kami mempersiapkan  dan mengumpulkan informasi mengenai Selayar dan Takabonerate. Mulai  dari akses transportasi laut, jaringan di pulau hingga isu soal Selayar  dan Takabonerate. Ini membantu agar kami mengenal kehidupan dan kawasan  di sini. Dan kemudian menajamkan isu yang hendak kami tulis. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Selayar dan Takabonerate  adalah kawasan kepulauan yang terletak di ujung bagian selatan Sulawesi.  Kepulauan ini sangat penting bagi Indonesia. Dan kehidupan biota laut  dunia. Di sini ada sekitar 220 hektar kawasan atol. Dan merupakan kawasan  ketiga terbesar di dunia. Takabonerate bagian dari titik segitiga terumbu  karang di Indonesia. Garisnya hingga di Papua dan kepulauan Alor-Flores. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Melihat Takabonerate  tak hanya melihat sebagai wilayah konservasi saja. Wilayah yang kaya  dengan berbagai species biota laut. Namun melihat Takabonerate juga  melihat celengan Indonesia di masa depan. Menghitung kekayaan alam yang  bernilai ekonomis. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Namun bagaimana wajah  kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan? Masyarakat yang  jauh dari hiruk pikuk wacana isu konservasi dan kepentingan ekonomis-politis  bagi Indonesia. </span><br />
<span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami naik ojek dari Benteng  menuju Pelabuhan Patumbukkan di bagian selatan Pulau Selayar. Jalan  kecil. Sisi kiri hutan bambu dan kelapa. Sisi kanan hamparan laut. Rencananya  kami akan ikut keliling menggunakan kapal patroli taman nasional. Dari  Benteng kami berangkat pukul 07.00 pagi, Rabu (24/02). Tiba di Patumbukkan  jam 08.00 pagi. Rencana berangkat menuju kawasan pada pukul 09.00. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Patumbukkan adalah pelabuhan  kecil. Satu dermaga. Sisi kiri kanan tumbuh pohon bakau alami. Di tepian  dermaga banyak ikan. Tinggal melempar jaring dan kail sudah cukup untuk  lauk pauk makan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Di ujung dermaga terlihat  pedagang kecil. Menjual rokok, minuman mineral dan lontong. Ojek dan  angkutan desa menunggu kedatangan feri dari Labuan Bajo ke Bira. Saya  baru tahu ini salahsatu transit feri dari Pulau Flores. Labuan Bajo  terletak di bagian ujung barat Pulau Flores. Ini salahsatu kawasan pariwisata  bahari. Terkenal untuk wisata menyelam dan melihat Komodo. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Asik melihat riang wajah  penumpang yang turun dari feri. Seperti menemukan kebebasan dan kemerdekaan  setelah letih berhari-hari di laut lepas. Melakukan perjalanan di atas  laut memang cepat bosan. Tak ada pemandangan selain laut. Dan perilaku  penumpang sendiri. Sisanya melewati dengan tidur dan makan mi rebus. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal patroli sudah ada.  Awak kapal belum menarik jangkar kapal. Kami menunggu dengan beberapa  petugas lapangan taman nasional. Namun hingga siang hari kapal belum  berangkat. Kami melewatinya dengan berdiskusi di dalam kapal.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kawasan Takabonerate  sekitar 5500 hektar. Membentang dari Pulau Tinabo, Rajuni, Jinato hingga  Pasitullu. Pulau ini kecil dan tak ada dalam peta besar. Taman Nasional  Takabonerate mengandalkan dua perahu untuk mengawasi seluruh kawasan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal kayu dengan dua  mesin pabrikan Yanmar. Mesin yang relatif irit untuk menghabiskan satu  jerigen solar. Ini berbeda dengan pabrikan mesin besar yang menengak  Solar lebih cepat. Seperti pabrikan dari Yamaha, Honda maupun Suzuki.  Pabrikan ini tak hanya memproduksi sepedamotor. Namun ikut menyerbu  produksi mesin-mesin kapal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal milik taman nasional  dirancang untuk mengangkut penumpang maupun barang. Tak cukup lincah  untuk bergerak mengelilingi kawasan seluas itu. Apalagi menguber kapal-kapal  yang melakukan kegiatan ilegal dalam kawasan taman nasional. Seperti  mengambil ikan dengan bom maupun menyebar racun hingga ikan mabuk. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Ada ratusan ton bambu  laut yang keluar dari kawasan. Ini tidak boleh dilakukan karena di dalam  wilayah konservasi” kata Edi Pranoto, salahsatu petugas polisi kehutanan.  Kami mengenalnya ketika ia duduk dengan petugas lapangan lainnya di  Pulau Rajuni. Di sebuah kolong rumah kayu dekat pengrajin ikan kering. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami mendengar bahwa  kasus bambu laut tengah marak sejak di Selayar.  Ketika kami menghabiskan  satu malam menginap di atas kapal patroli. Kapal ini akhirnya berangkat  hari Sabtu dan tak mungkin kami ikut bersama mereka. Karena terlalu  lama dan kami harus bergerak masuk untuk melihat pulau di dalam kawasan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami memutuskan untuk  menyewa kapal dagang yang berlabuh tak jauh dari kapal patroli. Kapal  ini bermuatan sekitar lima hingga 10 ton. Kami terpaksa mengeluarkan  uang cukup besar. Sekitar 1,4 juta menuju Pulau Jinato. Kami tidak tahu  persis berapa lama untuk mencapai pulau ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Masyarakat yang tinggal  di kepulauan memang mengandalkan perahu mereka sendiri. Tak ada jadwal  yang pasti keberangkatan kapal-kapal ini. Termasuk  kapal khusus  penumpang. Pemerintah tak menyediakan kapal penumpang khusus untuk melayani  pulau-pulau kecil ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Menuju kepulauan Takabonerate  butuh tenaga dan mental. Apalagi saat musim barat tiba. Saya baru mengenal  musim barat. Saya orang gunung dan tinggal di Bandung yang jauh dari  laut.  Musim barat angin berhembus sangat kuat. Hingga berjam-jam.  Ibaratnya, laut tengah birahi. Ombak bergelora. Kapal-kapal kecil ciut  dan menepi. Musim barat berlangsung dari Desember hingga bulan akhir  bulan ketiga pada Maret. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal yang kami tumpangi  berangkat pada Kamis, (25/02) pagi. Laut di dermaga tenang. Namun angin  mulai berhembus kuat. Kapal bergerak menuju Pulau Kayuadi.  Dari  kejauhan terlihat puncak gunung. Kami duduk di bagian atas atap kapal.  Kapten menjaga kemudi kapal berupa tongkat panjang. Dan sebuah tali  gas yang diikatkan pada badan kapal. Kami tidak tahu persis kalau tali  gas tiba-tiba putus dan mesin sulit dikendalikan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ombak memang langsung  bergelora. Kapal goyang membanting sisi kiri dan kanan. Saya berada  disamping kapten. Goyangan kapal terasa kuat. Beberapa kali harus menahan  pantat agar tidak loncat dari badan kapal. Kapal semakin mendekat memasuki  Pulau Kayuadi. Kami kagum dengan warna laut di kepulauan ini. Berwarna  biru tosca. Jernih. Batu-batu dan pasir putih terlihat jelas. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pulau ini berada di luar  kawasan taman nasional. Kapal hanya mengantarkan satu orang yang membawa  sepeda motor baru. Di pulau ini kami sempat mencicipi sinyal telephone  seluler. Sedikit hiburan untuk mengirimkan kabar melalui sms.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Kayuadi langsung  bergerak menuju Pulau Jinato. Ombak laut semakin kuat. Namun, kapal  “perang” kami cukup kokoh menahan gempuran ombak. Mesin menderu  memutarkan gardan dan baling-baling kapal. Sekitar dua jam lebih kami  bertahan dalam gempuran ombak ini. Sinar matahari sangat terik. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Angin dari yang berhembus  dari arah Barat semakin kencang. Arus laut terlihat kuat. Kapal tak  bisa berlabuh di dermaga kecil Jinato. Kapal memutar dan menuju bagian  belakang pulau yang arusnya relatif lebih tenang karena terhalang oleh  daratan. Memutarkan kapal dan melawan arus membuat goyangan kapal semakin  kuat. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal menabrak dan melawan  arus. Cipratannya naik hingga ke atap. Dan membuat tas, jaket dan pakaian  kami basah. Biru tosca membentuk seperti cincin. Pasir putih. Deretan  kelapa. Dan rumah-rumah kecil milik nelayan. Menjadi penyejuk setelah  lelah bertahan dalam gempuran ombak. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami harus adaptasi kembali  dengan kondisi perjalanan laut. Setelah dua bulan terakhir istirahat  dan kembali ke Bandung dan Jakarta. Sekitar pukul 15.00 sore akhirnya  kami tiba di Pulau Jinato. Kami loncat dari kapal dan berjalan kaki  di pasir putih. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Seratus kapal milik nelayan  berjejer rapi. Dua tiga rampon milik nelayan. Beberapa nelayan terlihat  tengah mengecat kapalnya. Dan memberikan dempulan di bagian badan kapal. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Musim barat membuat kapal-kapal  ini tiarap. Dan nelayan menghabiskan waktunya istirahat dan memperbaiki  kapal-kapalnya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;"><strong>Wajah Pulau Jinato</strong></span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pulau Jinato sangat kecil.  Ada sekitar 300 kepala keluarga yang mendiami pulau ini. Kebanyakan  Suku Bugis dan bekerja sebagai nelayan maupun pedagang kecil. Dua bangunan  sekolah; dasar dan menengah. Sisanya bangunan desa, masjid, lapangan  sepakbola, rumah nelayan, dan penyulingan air laut. Cukup satu jam untuk  berkeliling pulau ini. Di ujung pulau juga bisa melihat puluhan burung  camar. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Masyarakat mengandalkan  air hujan untuk cadangan tambahan air tawar. Rumah nelayan memasang  selang dan jerigen untuk menampung air hujan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Tapi pulau ini masih  lumayan ketimbang pulau lainnya. Air tawar di pulau tak begitu terasa  asin,” kata salahsatu warga, Taha yang memberikan tumpangan untuk  tidur dan makan buat kami. Kami tidur di ruang atas. Lantainya dari  papan kayu. Atap rumah dari seng. Jika siang hari terasa panas. Dan  kami memilih untuk istirahat dan tidur di bawah pohon besar. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Sehari-hari Taha bekerja  sebagai pedagang. Ia menjual beras. “Namun seringnya dibayar berbulan-bulan.  Keuntungannya kecil, “ katanya. Satu karung beras seberat 25 kilogram  dibandrol sekitar 175-180 ribu rupiah. Tak ada pekerjaan lain selain  menjadi nelayan dan pedagang. Tanah di pulau ini tak cukup untuk lahan  berkebun. Jagung tumbuh kecil. Daunnya kering kurang air dan nutrisi. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Bambu laut memang  lagi marak. Petugas memang melarang untuk mengambil bambu laut. Tapi  bagaimana dengan masyarakat di luar kawasan? mereka sering masuk dan  langsung keluar dari kawasan,” katanya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saya melihat gubuk-gubuk  kecil dekat bibir pantai. Karung-karung penuh dengan bambu laut. Limbahnya  terlihat menumpuk dan mengeluarkan bau anyir. Kapal tinggal mengangkut  karung-karung. Kawasan konservasi taman nasional memang memiliki aturan  yang memperbolehkan dan melarang untuk mengambil sesuatu dari kawasan.  Aturan ini juga mengatur cara pengambilan yang diperbolehkan. Bambu  laut belum masuk biota yang dilindungi. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Mereka bawa linggis  dan palu. Kemudian bongkar karang untuk mengambil bambu laut. Itu jelas  merusak. Merubah ekosistem cagar alam, ” kata Edi Pranoto. Apalagi,  menurutnya, pengambilan bambu laut dalam jumlah yang besar. Diperkirakan  ratusan ton bambu laut sudah dipanen dari dalam kawasan. Berapa besar  luas kerusakan karang-karangnya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kawasan Takabonerate  tumbuh subur bambu laut. Menurut pelacakan petugas taman nasional, harga  satu kilogram bambu laut basah sekitar 2500 rupiah. Bambu laut digunakan  untuk bahan dasar obat dan keramik. Namun belum jelas kemana bambu laut  ini mengalir. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Jinato kami sempat  melihat pulau kecil, Lantigiang. Menyewa perahu nelayan. Di Lantigiang  tak ada penduduk. Beberapa pohon kelapa tumbuh namun buahnya tak subur.  Pasir putih membentang. Pasirnya halus. Lembut di kaki. Batu dan karang  kecil mengelilingi pulau. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Namun rusak,” kata  Farid Gaban yang sempat snorkeling. Kami jalan mengelilingi pulau. Sampah  berupa botol berserakan di bibir pantai. Dan merusak pemandangan. Pulau  kecil sering disinggahi oleh kapal-kapal layar asing. Sekedar melepas  lelah dan berenang. Penduduk lokal juga menghabiskan waktu liburnya  dengan makan bersama di pulau ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Farid Gaban menyelam  dengan pemilik kapal. Menggunakan kompressor. Namun, saya melihat kompressor  yang digunakan bukan kompressor yang digunakan untuk mengisi angin di  tempat tambal ban. Mesin kompressor dari mesin heller. Selang mengambil  angin dari buangan mesin. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Saya sakit tenggorokan.  Baunya juga gak enak,” kata Farid Gaban. Saya terkekeh saja. Dia tak  awas dan langsung menyebur ke laut. Memasang selang di mulutnya. Nelayan  menggunakan kompressor untuk mencari teripang. Atau memasang bubu di  dasar laut. Dengan kedalaman 10 hingga 30 meter. Kompressor memang bukan  alat untuk membantu penyelaman. Banyak korban akibat kompressor dan  penyelaman liar macam ini. Mulai dari kematian hingga lumpuh. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami melihat praktik  penyelaman liar dan berbahaya seperti itu. Mulai di kepulauan Mentawai,  Karimata dan terakhir di pulau Jinato ini. Nelayan tak punya pilihan,  modal dan pengetahuan tentang tata cara penyelaman yang benar. Menyelam  butuh pendidikan khusus. Tabung oksigen dan baju yang khusus. Penyelamanan  termasuk kegiatan ekstrem. Apalagi dilakukan dengan menggunakan kompressor. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Namun rekan saya, Farid  Gaban tetap mencoba menyelam menggunakan kompressor. Ia tahu risiko  dan praktik penyelaman seperti itu tidak benar. Bahkan pemberat penyelaman  juga menggunakan besi rantai! Tapi Farid Gaban memang nekad. Sulit untuk  membendung agar ia tak melakukan penyelaman seperti itu.*** </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1087</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gaban Mengejar Penyu di Marimabuk</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1085</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1085#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<category><![CDATA[Underwater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1085</guid>
		<description><![CDATA[



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Mengejar penyu" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs444.ash1/24486_10150128868940114_193937575113_11356238_134327_n.jpg" alt="" width="500" height="372" /></p>
<p><span id="more-1085"></span></p>
<p><img class="aligncenter" title="penyu" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs404.snc3/24486_10150128868945114_193937575113_11356239_7944884_n.jpg" alt="" width="500" height="365" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="penyu1" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs424.snc3/24486_10150128868920114_193937575113_11356237_6556874_n.jpg" alt="" width="500" height="335" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1085</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan Kering dari Kampung Rajuni</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1091</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1091#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 18:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Yunus
Jarak dari Jinato ke  Rajuni tak terlalu jauh. Kapal bisa menempuhnya sekitar satu setengah  jam. Namun angin kencang dan arus ombak terasa kuat. Membuat kapal setengah  mati melibasnya. Kami menempuhnya sekitar dua jam. Ombak naik turun.  Kami duduk di atas atap kapal. Memegang kuat untuk menjaga tumpuan tubuh.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Ahmad Yunus</strong></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Jarak dari Jinato ke  Rajuni tak terlalu jauh. Kapal bisa menempuhnya sekitar satu setengah  jam. Namun angin kencang dan arus ombak terasa kuat. Membuat kapal setengah  mati melibasnya. Kami menempuhnya sekitar dua jam. Ombak naik turun.  Kami duduk di atas atap kapal. Memegang kuat untuk menjaga tumpuan tubuh.  Kapal melawan arus. Cipratan air laut sempat mengenai kamera digital  yang dipegang oleh Farid Gaban. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kami berangkat dari Jinato  pada pukul 10.00 pagi hari. Setelah air laut sedikit pasang. Dan tiba  di Rajuni sekitar pukul 12.30. Terik matahari sangat keras. Rajuni seperti  pulau lainnya di kawasan Takabonerate. Memiliki pasir putih dan laut  di bibir pantai yang jernih. Di sini rumah warga tampak lebih padat  ketimbang di Jinato. Ada dua suku yang mendiami pulau ini. Suku Bugis  dan Bajoe. Bajoe adalah suku pengembara. Mereka tinggal di atas perahu.  Dan menjalankan kehidupannya di atas laut. </span> <span id="more-1091"></span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Namun, di pulau ini,  Bajoe sudah mendirikan rumah. Mereka bikin dinding dan atap rumah dari  pelepah daun kelapa. Sebagian mendirikan bangunan permanen. Namun rumah  warga Suku Bugis kebanyakan sudah permanen. Beberapa bangunan tampak  kokoh. Dengan warna cat cerah. Bahkan tak segan memasang tiang rumah  seperti di rumah sinetron. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Masyarakat Bugis memiliki  armada kapal tradisional dan menguasai jalur perdagangan laut. Mulai  dari Makassar, Lombok, Flores, Timor, Alor hingga ke Ambon. Mereka membawa  semen, komoditas pertanian seperti kemiri, cocoa, rumput laut hingga  mete. Mereka juga menguasai dan bisa membaca kondisi laut. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Haji Daeng Erang adalah  salahsatu warga yang tinggal di pulau ini. Ia dan keluarganya memiliki  kapal dagang. Jualan ikan kering. Membeli hasil dari nelayan. Ia sudah  puluhan tahun melakukan perdagangan ini. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Kapal dari Rajuni  terkenal. Bisa dibedakan dari tiangnya. Kami punya tiang lebih tinggi  ketimbang kapal lainnya,” kata Haji Daeng Erang. Di perkampungan Bugis  ini banyak haji. Dari usaha perdagangan. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kapal seperti ini sempat  saya lihat ketika tinggal di Ende maupun Maumere. Saya baru tahu sekarang.  Bahwa kapal-kapal dagang ini berasal dari Pulau Rajuni. Menurut, Daeng  Erang dari Rajuni ke Flores ditempuh sekitar dua hari. Jarak yang sama  seperti dari Rajuni menempuh ke Makassar.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ketika di Makassar saya  sempat jalan ke salahsatu pelabuhan tradisional. Banyak kapal dagang.  Di sepanjang pinggiran jalan banyak yang berjualan ikan kering. Ukurannya  besar-besar. Ikan kering ini berasal dari Pulau Rajuni. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Di Makassar, Daeng Erang  menjual ikan kering kerapu, sunu, ketamba dan sindrili. Ikan kering  ini harganya bisa menyaingi harga daging sapi. Ia menjual ikan kering  kakatua, dan ange ke lombok dengan kisaran 11 hingga 15 ribu rupiah.  Sementara untuk Flores ia menjual ikan kering boronang, tenko dan malaya.  Kapal dagang miliki Haji Daeng Erang baru berlayar ketika muatan barangnya  sudah mencapai satu hingga dua ton lebih. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Siang itu, beberapa pack  ikan kering sudah tersusun rapi. Daeng Erang juga mengangkut jemuran  ikan keringnnya. Tak jauh dari rumahnya, ada satu gubuk yang disulap  menjadi dapur. Tempat perebusan ikan-ikan kering. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Ikan kering menjadi usaha  masyarakat di Rajuni. Ikan kering memberikan penghasilan halal ketimbang  menebang bambu laut. Usaha pengeringan ikan kering tidak melanggar aturan  kawasan taman nasional.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Tak jauh dari Rajuni,  ada satu pulau kecil, Tinabo. Pasir putih. Di sini tak ada penduduk.  Bangunan satu-satunya hanya pos jaga taman nasional. Airnya jernih sekali.  Saya menyempatkan diri untuk berenang. Tergoda untuk mencicipi pasir  dan air lautnya. Senja mulai jatuh dari langit. Sulit menemukan pemandangan  seperti ini. Malam bulan purnama. Cahayanya memberikan sejumput kehangatan.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;"><strong>Kembali ke Selayar</strong></span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Rabu, (3/03), ini kami  mesti melanjutkan perjalanan lagi. Kembali ke Bira. Naik feri menuju  Bau-bau. Kami mesti meninggalkan kepulauan Takabonerate. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Dari Flores nanti  kita kembali lagi ke Takabonerate,” kata Farid Gaban. Ia masih tergoda  untuk menyelam. Pada musim barat, kawasan taman nasional Takabonerate  menutup kegiatan penyelaman. Karena arus dan gelombangnya sangat kuat. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Tapi saya lurus langsung  ke Bali,” kata saya sambil tersenyum. Begitu banyak tempat yang kami  singgahi memang sangat menggoda. Tak cukup hanya menghabiskan waktu  satu atau dua minggu. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">“Saya tertarik untuk  bikin buku,” kata Farid Gaban bersemangat. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dari Rajuni kami naik  kapal nelayan. Tak ada muatan. Mereka hendak ke Bulukumba. Kami dan  beberapa petugas dari taman nasional naik kapal ini. Laut sangat tenang.  Tak ada gelombang sama sekali. Angin juga berhembus sangat pelan. Kondisi  ini sangat berbeda ketika hari sebelumnya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Namun laju kapal ini  sangat lamban. Seperti jalan siput. Kapal naik jangkar pada pukul 10.00  pagi dan tiba di Selayar pada pukul 18.00 sore hari. Kapal mengikuti  pantat sebuah kapal pinisi. Kapalnya berukuran besar. Menggunakan mesin.  Namun kapal ini memiliki sebuah layar berwarna biru. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Saya melihat kapal pinis  itu. Dan membayangkan berada di atas kapal itu. Memandang layarnya.  Dan duduk di depan geladak kapal. Seperti kisah para petualang laut.  Mengembara di laut perairan Nusantara.*** </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1091</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Pasir Putih Tanjung Bira</title>
		<link>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1083</link>
		<comments>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1083#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 12:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asep</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=1083</guid>
		<description><![CDATA[
Tanjung bira terkenal dengan pantai pasir putihnya yang cantik dan menyenangkan. Airnya jernih, baik untuk tempat berenang dan berjemur. Matahari terbit dan terbenam dengan cahayanya yang berkilau pada hamparan pasir putih sepanjang puluhan kilometer.



Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tanjung Bira" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs450.ash1/24771_10150092714340114_193937575113_11154654_1936484_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p style="text-align: left;">Tanjung bira terkenal dengan pantai pasir putihnya yang cantik dan menyenangkan. Airnya jernih, baik untuk tempat berenang dan berjemur. Matahari terbit dan terbenam dengan cahayanya yang berkilau pada hamparan pasir putih sepanjang puluhan kilometer.<span id="more-1083"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="bira" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs410.snc3/24771_10150092714345114_193937575113_11154655_8056636_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="birajuga" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs430.snc3/24771_10150092714355114_193937575113_11154656_6324733_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="bira3" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs450.ash1/24771_10150092714365114_193937575113_11154657_1403237_n.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari Kota Bulu Kumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Kota Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Selanjutnya, dari Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan pete-pete dengan tarif sekitar  Rp. 10.000,-. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 – 3,5 jam.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?feed=rss2&amp;p=1083</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
