Home > Catatan Perjalanan > Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal

Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal

September 4th, 2009

Oleh Ahmad Yunus

Ernest Hemingway, seorang novelis, menulis sebuah kisah ciamik tentang pergulatan seorang lelaki tua dan laut. Novel ini mengisahkan tentang gejolak bathin dan fisik manusia tentang makna sebuah perjalanan hidup. Laut memberikan makna yang luas, kehidupan alam sejati. Tanpa aturan. Tanpa tapal batas.

terigas02

Lelaki tua, yang menjelang kehidupannya akan berakhir, harus menentukan arah hidup. Ke mana ia akan melangkah setelah kematian tiba menjemputnya. Lelaki tua. Kesendirian. Laut lepas. Memberikan ikatan yang kuat. Sekaligus sebuah kegetiran.

Lelaki tua tak mudah menaklukan laut. Ia terlalu kuat. Dan lelaki tua terlalu ringkih. Bahkan,  sampan yang ia tumpangi, terlalu rapuh untuk menahan gempuran ombak. Dan gemuruh badai. Laut dengan mudah menelan sampan dan lelaki tua. Namun, laut juga tahu, kisah perjalanan lelaki tua belum berhenti di sana. Bahkan ketika  kematian telah menjemputnya.

terigas12

Ernest hanya menulis dalam bentuk sebuah novel. Saya tidak tahu, apa kisah “The Old Men and The Sea” adalah tentang dirinya. Dimana, ia menemukan inspirasi ketika memulai novel legendaris itu?

Saya teringat pada perjalanan Fadzham Fadlil. Seorang lelaki paruh baya, berkulit gelap karena terbakar matahari, dan menemukan hidupnya di atas laut. Ia melakukan perjalanan dari New York hingga ke Indonesia. Seorang diri dengan kapal layar.

Kisahnya, petualangannya tak jauh-jauh amat seperti kisah Robinson Crusoe. Dan ia sendiri pengagum kisah petualangan itu. Beberapa kali, laut dan badai hampir menghempaskan kapalnya. Dan cuaca dingin mengakibatkan hemothermia tinggi.

Saya mengenal dia di Bandung. Dan sempat menulis kisah perjalanannya untuk Majalah Playboy Indonesia. Bahkan, dia sempat mengajak saya untuk ikut berlayar. Namun, sampai sekarang belum juga terwujud.

Fadzam Fadlil-akrab dipanggil, Sam- melalui pahit manis perjalanannya itu. Ia menutup sepenggal kalimat dalam buku travelingnya. The last but not least, the journeys more important than the destination it self.

terigas18

Ernest Hemingway dan Fadzham Fadlil, menulis tentang dunia laut, kapal, dan manusia. Sebuah kisah tentang kehidupan. Wajah dari sebuah perjalanan.

Saya, bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut. Bahkan, gambaran laut dalam benak saya, selalu menakutkan. Dunia yang penuh mitos dan kegetiran. Mungkin, dunia laut hanya cukup dinikmati melalui buku saja. Sambil minum kopi dan kudapan. Namun, perjalanan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa” tak bisa menghindari laut. Perjalanan ini akan memakan waktu delapan bulan. Berkeliling Indonesia ke 100 pulau. Naik sepeda motor.

Kami-Saya dan Farid Gaban-melintasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Dan singgah untuk melihat secara dekat bagaimana kehidupan manusia di 100 pulau itu. Kapal, sesuatu yang jarang kami tumpangi, akhirnya menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan saya. Sebuah ruang komunal bersama. Perjumpaan dengan seribu wajah. Bahasa. Etnisitas. Dan segala tetek bengek lika liku kehidupan dalam kapal.

terigas09

Kisah ini saya temukan dalam kapal perintis. Kapal pabrikan Jepang berkekuatan 900 ton. Namanya, Terigas. Pengelolanya PT. Mitra Nusantara Raya, sebuah perusahaan pelayaran nasional. Ia melayani pulau-pulau kecil. Dari Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Tanjung Pinang, Pulau Terempak, Pulau Midai, Pulau Laut, Pulau Sedanau, Ranai-Natuna, Pulau Subi hingga menyebrang ke Sintete di Kalimantan Barat.

Kapal ini bukan kapal penumpang. Melainkan kapal pengangkut barang. Mulai dari telur, terigu, beras, sabun mandi, minyak goreng, oli, sampai kertas. Namun, entah ide siapa, kapal ini akhirnya menjadi kapal penumpang orang. Di atas geladak kapal terbentang terpal berwarna biru. Mirip acara hajatan di kampung. Penumpang tidur, duduk, berdiri, jongkok, tengkurap, merokok, makan, minum bahkan mungkin pacaran di bawah terpal itu.

Republik ini  tak mampu menyediakan sebuah kapal yang nyaman dan bersih. Sekaligus aman, banyak kasus kecelakaan akibat kapal penumpang tenggelam. Kalau lagi banyak muatan, alamak, mendadak geladak kapal seperti pasar. Tua muda. Lelaki perempuan. Anak-anak hingga bayi mungil berserakan macam ikan pindang. Berdesakan dan berebut tempat. Geladak juga penuh dengan dengan barang bawaan penumpang.

Paling menyedihkan adalah perempuan usia muda-tua, ibu menyusui dan tentunya anak-anak. Perempuan tak punya tempat khusus. Mulai dari toilet, kamar mandi, hingga tempat untuk merebahkan badan. Mereka juga sulit untuk naik turun ke atas geladak. Tingginya sekitar satu meter dan sempit. Sisi kiri kanan badan kapal dibatasi pagar besi. Kalau tak hati-hati bisa terkilir atau jatuh ke laut. Jalan sempit ini juga kotor penuh sampah. Terkadang licin akibat muntah penumpang.

Pemandangan terasa pengap. Udara kotor. Banyak debu. Angin laut langsung menerpa wajah. Kalau badai datang, angin terasa kuat dan cukup dingin. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib orang yang punya penyakit alergi. Atau terbiasa hidup mapan, naik mobil pribadi, ada fasilitas pendingin ruangan, biasa naik pesawat terbang kelas satu, dan kemudian mencoba mencicipi tidur di atas geladak kapal ini.

Makan mie instant setiap hari, minum kopi dalam plastik, mandi dalam bak air yang keruh, buang hajat di toilet berukuran 1 x 1.5 meter persegi, atau makan ransum gratisan; nasi dengan menu kacang goreng dan satu sendok asin teri. Laju kapal ini seperti siput. Kalau gelombang keras, kapal goyang. Bikin mual. Bau muntah orang terasa menempel di hidung. Juga bau pesing yang datang dari mana.

Hiburan selama perjalanan adalah melihat matahari terbenam. Ini satu-satunya yang menarik perhatian. Kalau cuaca bagus, matahari seperti membakar langit. Lambat laun menjadi siluet. Dan meninggalkan warna emas, kuning dan biru kuat. Rasanya teduh melihat ada orang yang mengaji, suaranya terdengar samar-samar. Mendengar adzan Maghrib menjelang senja. Dan melihat orang yang tengah shalat sambil duduk menghadap kiblat.

Kami melewati kondisi seperti ini selama enam malam tujuh hari. Rata-rata untuk menempuh satu pulau ke pulau lainnya sekitar 12 jam. Setiap singgah sekitar dua hingga enam jam. Menurunkan penumpang, barang dagang, isi air bersih hingga menampung penumpang baru. Dua kali mandi dalam kapal. Dua kali berenang di pantai yang jernih.

Sedih dan pahit melihatnya. Pemerintahan Indonesia tak becus menyediakan fasilitas publik yang benar. Mungkin juga tutup mata untuk urusan seperti ini. Dan lebih penting suka mengobarkan perang terhadap terorisme. Begitu juga dengan media yang sama sekali tidak menjalankan jurnalismenya. Dan melihat isu publik, seperti transportasi laut, kurang penting dan relevan.

Tapi warga republik ini tak punya pilihan. Ini satu-satunya transportasi umum. Kapal ini yang membantu mendorong roda geliat kehidupan di pulau-pulau kecil itu. Mengantarkan penumpang untuk melepas rasa rindu dengan keluarganya di rumah. Memutarkan ekonomi lokal.

Selama perjalanan, tak pernah saya melihat penyelenggara negara yang menggunakan kapal perintis ini. Kebanyakan pedagang dan masyarakat biasa saja. Warga yang biasa bertelanjang dada. Dan membiarkan bulu keteknya dilihat orang. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya-jualan kerupuk, jeruk, semangka-. Dan ketika laku, si penjual langsung merapal doa, agar si pembeli rejekinya bertambah dan menjadi sholehah.

Dalam geladak saling bercengkrama, menatap, memberikan senyum dan sentuhan dengan cara sendirinya. Tanpa ada yang mengatur dan memimpin. Ada Jawa. Melayu. Tionghoa. Sunda. Acheh. Seperti keluarga besar. Tak ada prasangka ras, perselisihan agama, maupun perbedaan pandangan politik. Kecuali, waspada agar barang bawaan pribadi hilang atau tertukar. Inilah wajah Indonesia di atas geladak kapal. Rasanya seperti sambal. Kalau dirasakan terlalu dalam bisa mencret dan sakit perut.

Orang macam saya juga tak bisa protes. Apalagi mengeluh minta pelayanan khusus. Cukup melihat. Mendengar. Merasakan sedikit mual. Dan menulis dengan senang hati di atas geladak kapal. Diantara lalu lalang dan gemuruh suara orang yang bercengkrama. Dan jerit tangisan seorang bayi kecil yang merengek. Cukup tersenyum melihat wajah Indonesia yang jauh dari Jakarta. ***

  1. September 6th, 2009 at 09:50 | #1

    Cerita yang sungguh menggugah, photo2 yg maha klasik.. makasih mas Ahmad Yusuf sudah berbagi.. semoga perjalanan dgn mas Farid lancar adanya dan penuh pernik2 kemanusiaan…

  2. September 6th, 2009 at 09:51 | #2

    maaf salah ketik, mas Ahmad Yunus…

  3. September 6th, 2009 at 11:16 | #3

    Tulisan dan foto2nya (menurut saya) sangat bagus. Feature perjalanan yang menginspirasi. Jujur saja, saya berasa ikut juga dalam perjalanan tersebut padahal hanya dengan membaca dan mengamati foto2 ini. Terima kasih dan sukses selalu buat Bang Farid Gaban dan Bang Ahmad Yunus. Salam kenal dari saya.

    Boleh nggak saya share di facebook? :-) (minimal saya cantolkan LINK artikel ini).

    Salam,
    O. Solihin

  4. September 6th, 2009 at 11:33 | #4

    @ O. Solihin. Silahkan saja Bung!
    Semakin banyak yang membaca semoga, semakin banyak yang peduli terhadap laut dan kepulauan Nusantara.

  5. Hadi Sidiki
    September 6th, 2009 at 12:21 | #5

    Saya juga mohon ijin copy buat teman-teman mahasiswa jurnalistik..
    boleh kan?

  6. September 6th, 2009 at 16:22 | #6

    asyik nih…
    perjalanan ini terus berlanjut padahal saya dah beberapa edisi ketinggalan
    (ye, salah siapa? hayooo…)
    sayang gak boleh ikut :(
    coba kalo okti ikut ….
    ^_^

    terus update ya………..

  7. endang Khz
    September 6th, 2009 at 19:04 | #7

    Mungkin dgn mlhat foto2 diatas kita bs tahu potret khdpn rakyat indonesia….!

  8. September 6th, 2009 at 22:29 | #8

    terima kasih untuk tulisan yang menggugah ini, teruslah mengkabarkan kami soal indonesia di luar jakarta sana

  9. wahyu
    September 6th, 2009 at 23:11 | #9

    senang ketemu blog ini..
    luar biasa melihat indonesia dari sisi lain, humanis, dan benar2 beda

  10. September 7th, 2009 at 00:29 | #10

    wah…makin lama mangikuti perjalanan Bung Ahmad Yunus sama Bang Farid Gaban jadi rindu berkendara lagi..Minggu ini mulai keluarkan motor dari garasi,setel ulang lagi…

    Tetap semangat bro..tenggat sampai Desember masih lama..tetap ciptakan inspirasi seperti ini..saya tunggu kisah berikutnya..semoga kali lain kita bisa berkendara bersama..

  11. September 9th, 2009 at 03:16 | #11

    trnyata namamu udah layak diganti Yunus Hemingway. :D

  12. marietta
    September 11th, 2009 at 01:08 | #12

    GREAT PICTURE!! APALAGI ITEM PUTIH JD KY FOTO INDONESIA JAMAN DULU. SELAMAT MELANJUTKAN PERJALANAN..

  13. September 11th, 2009 at 17:01 | #13

    Kisah tentang The Old Man and Sea, lalu mengait-ingat pada Fadzal Fadhil adalah lelaki dari Pulau Buluh (Kepri). Dia anak jati watan negeri Melayu yang gagah berani menaklukkan dua kolam raksasa Hindia dan Atlantika. Kalo tak salah, pernah diulas pak Yusmar Yusuf dalam rubriknya ‘Perisa’ (Riau Pos!

  14. September 12th, 2009 at 18:55 | #14

    Dear All,

    great real story, cerita ini dapat menjadi dasar bagi negeri ini untuk menyusun penyelengggaraan infrastruktur kepulauan yang lebih baik utk menunjukkan bahwa kita mempunyai kedaulatan atas wilayah ini.

    ayo kita susun spt apa infrastruktur kepualauan yang kita inginkan spy cerita ini tidak terulang kembali dimasa yang akan datang.

  15. September 15th, 2009 at 04:31 | #15

    Sebuah kisah yang tersentuh hati, dapat saya rasakan bagaimana suasana semua peristiwa di atas kapal barang dalam penyeberangan. Pengalamanku saat mengawal barang barang di perusahaan PT.Haris Global Logistic ke beberapa pulau Indonesia. click dan browse banyak kisah di website kami: http://www.harisglobal.com/in/layanan

  16. September 17th, 2009 at 02:34 | #16

    Extraordinary blog!
    Terima kasih pak, sudah berbagi…what a journey!
    oiya, izin link di facebook ya..

  17. September 27th, 2009 at 06:10 | #17

    luar biasa Yunus, saya harus hati-hati membacanya dan terus mengulang, sengkira ada yg salah melesat terbaca. Disajikan sangat apik dan detil, muramnya negeri yg berumur lebih dari setengah abad ini. Bravo utk Yunus dan mas Farid, salam genggam erat dr Aceh…Gud Luck bro!

  18. Abdul Haris
    November 10th, 2009 at 09:11 | #18

    Sampai dimana sekarang ?? sdh lama kayaknya kita gak jumpa, pingin ngajak minum teh tarik lagi bareng teman-teman, salam buat mas farid…..

  19. hernik
    November 12th, 2009 at 21:55 | #19

    ijin link ke facebook ya mas…
    tulisan dan foto2nya menarik dan bagus…

  20. December 2nd, 2009 at 23:53 | #20

    Terima kasih, salut dan kagum atas perjuangan rekan berdua. Saya juga berkeinginan suatu saat mengikuti jejak langkah anda untuk menyusuri pelosok negeri ini.

    Salam Bahari..

    Wijayanto

  21. January 13th, 2010 at 21:51 | #21

    sukses bro..
    ijin copas bro untuk share ke rekan rekan ane, udah dimana posisi bro

  22. ahmad wildani(awil)
    March 1st, 2010 at 04:40 | #22

    tahniah atas tulisan bang farid dan bang yunus tentang perjalanan nya berlayar bersama kapal perintis,salah satu kapal yg tdk boleh tdk para masyarakat kepulauan wajib untuk menaikinya jika mau pulang ke kampung halamannya,sudah lama sya mengharap tulisan seperti ini yg menggambarkan kehidupan di atas kapal perintis yg seperti abang ceritakan,bahkan sya ada keinginan untuk menceritakan hal ini dlm bentuk tulisan tp terbentur oleh ketidak tahuan sya untuk mengarang sebuah tulisan,sebenarnya masih banyak kisah yg sgt memprihatinkan dan menyedihkan yg di alami para masyarakat di dlm melakukan perjalanan memakai kapal perintis ini,sya sgt mengetahui hal ini karena sya adalah termasuk orng yg selalu menggunakan jasa angkut kapal ini(pedagang sintete-tj.pinang), hal ini perlu kita sampaikan ke pemerintah,agar mereka tahu kesusahan dan penderitaan masyarakat kita ketika melakukan perjalanan pakai kapal yg tak layak untuk di jadikan kapal penumpang ini, sya sgt berharap tulisan abang ini bisa di baca oleh pemerintah yg terkait supaya hal ini bisa di perbaiki agar kedpnnya pelayanan dan kenyamanan masyarakat kita lebih baik, wassalam dr sya di sambas.(maaf klau tulisan sya kurang mantap,sya harap abang memahami maksud sya)

  23. aries
    June 8th, 2010 at 06:38 | #23

    saya urutan ke 23 dan akan ada ratusan komentar lain menyusul, mengisyaratkan, tulisan abg prestisius karena digali dari keadaan yang belum pernah dibayangkan sebelummya. semoga bermanfaat bagi kita semua, amin
    Pertemuan singkat kita di Bima, menyisakan kesan, semoga ada pertemuan yang durasinya lebih lama. paling tidak, copyright ilmunya lebih banyak ke pegiat jurnalis di Bima

    salam
    Haris-Bima

  1. September 27th, 2009 at 13:14 | #1