Home > Catatan Perjalanan > Derawan: Mendorong Ekowisata Bahari Berbasis-Masyarakat

Derawan: Mendorong Ekowisata Bahari Berbasis-Masyarakat

December 18th, 2009

Oleh Farid Gaban
Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur mengandung keunikan dan keindahan alam yang mengundang decak kagum. Salah satu yang terbagus di Indonesia.
Ada banyak lokasi penyelaman terumbu karang di pulau-pulau Derawan, Maratua, Sangalaki dan Kakaban. Dan di situ kita bisa menyaksikan pula matarays serta stingray (ikan pari), barisan barracuda dan lompatan lumba-lumba. Kita bisa melihat penyu bertelur dan menetas di Pulau Sangalaki, pulau yang juga berisi hewan seperti biawak dan burung maleo endemik.

Mahkota utamanya adalah Pulau Kakaban, yang terbentuk akibat peristiwa geologis 20.000 tahun lalu. Pulau atol Kakaban memiliki wisata selam terbagus, di samping yang paling unik, danau air payu yang luas tempat jutaan ubur-ubur hidup. Kakaban sering disebut sebagai The Temple of Life on Earth dan oleh Unesco diusulkan sebagai warisan dunia yang layak dilestarikan.
Tempat yang memukau. Tapi, salah satu paradoks dalam pengelolaan wisata alam adalah makin menarik dan unik satu tempat makin mengundang wisatawan/pendatang. Dan makin banyak pelancong akan mengancam kelestariannya, untuk kemudian mengilangkan daya tarik, yang pada gilirannya akan mematikan bisnis wisatanya.

Di sisi lain, adalah tidak adil menolak hak masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari wisata alam.

Tapi, di sini pula terletak dilema dan paradoks dalam pengembangan wisata alam seperti ini, tidak hanya di Derawan tapi juga banyak tempat lain serupa di seluruh Indonesia. Harus ada keseimbangan.
Keseimbangan bisa dicapai dengan konsep pengembangan eko-wisata berbasis masyarakat (Community-based ecotourism). Wisata untuk daerah seperti ini harus dikelola masyarakat sendiri dengan bantuan dan proteksi dari pemerintah, ketimbang pemerintah mengundang investor asing atau Jakarta. Pengembangannya mungkin lambat tapi sebenarnya itu tak masalah; sekaligus mencegah suatu tempat wisata alam menjadi korban dari sukses daya tariknya karena terburu mengembangkan wisata alam massal.

Kenapa masyarakat sendiri? Mereka memiliki rasa keseimbangan yang lebih bagus tentang habitat mereka sendiri, ketimbang orang/investor luar yang hanya cari uang. Di sini juga berlaku aspek skala dan intensitas eksploitasi: dengan investasi kecil (bukan membangun hotel/resort besar-besaran) mereka tidak dituntut pengembalian yang besar dan cepat dalam jangka pendek. Dengan begitu akan mengurangi tekanan pada keseimbangan alamnya. Mengurangi risiko tekanan terlalu berat sehingga kerusakan tak bisa diperbaiki lagi.
Masyarakat memiliki takaran lebih bagus tentang daerahnya, tentu dibarengi pula dengan pengetahuan, ketrampilan dan semangat kebersamaan yang tidak melulu soal uang, serta pendapatan jangka pendek. Masyarakat lebih mampu mengelola lingkungan hidupnya sendiri. Itu sudah terbukti, tak hanya dalam pengelolaan wisata, tapi juga dalam pengelolaan hutan serta kawasan pesisir dan pulau kecil.

Perusak alam di Kalimantan, baik hutan, sungai maupun pesisirnya, adalah orang-orang berkuasa dan berduit. Merekalah yang sudah menghabiskan sebagaian besar hutan lewat konsesi HPH. Dan kini masih terus berlanjut. Mereka antara lain membuka lahan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit sangat masif.

Masyarakat Dayak dan petani/nelayan pendatang memiliki takaran yang lebih pas bagaimana mengeksploitasi alam tanpa merusaknya.
Sebagai langkah awal di Derawan, Yayasan Bestari membantu masyarakat setempat mengembangkan wisata alamnya sendiri. Di Derawan kini telah ada bebarapa resort/hotel besar yang dikelola orang sing maupun luar daerah, termasuk dari Malaysia, Jepang, Jerman dan Prancis.

Beruntung Kepulauan Derawan termasuk sulit dicapai, atau ongkosnya terlalu mahal untuk bisa mengunjunginya. Ini sendiri sudah membatasi jumlah wisatawan yang datang.

Tapi, kecenderungan ke arah komersialisasi berlebihan mulai nampak. Penerbangan pesawat ke kota terdekat Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau, mulai dibuka. Dan saya mendengar kabar bahkan akan dibangun bandar udara di Pulau Maratau, salah satu jantung Derawan sendiri, yang dibarengi pembangunan hotel besar. Bestari salah satu yang menolak rencana itu.

Community-based ecotourism paling masuk akal untuk menjaga keseimbangan alam yang rapuh di Kepulauan Derawan. Mereka juga bisa menjadi kelompok penekan yang akan mencegah munculnya kebijakan pemerintah yang cenderung hanya fokus pada investasi luar, tanpa mempertimbangkan kelestarian alam; misalnya dengan memberi izin pembangunan resort besar-besaran untuk wisata massal.

Bersama Bestari, masyarakat setempat juga mendesak adanya larangan untuk mendirikan resort di Pulau Sangalaki dan Kakaban. Dulu ada resort di Sangalaki, tempat beberapa satwa endemik hidup dan tempat bertelur serta menetasnya penyu. Kini sudah ditutup. Kakaban tertutup sama sekali untuk pembangunan bahkan rumah masyarakat sekalipun.
Melalui beberapa pecobaan, paket wisata yang dikelola masyarakat bersama Bestari juga membatasi jumlah pengunjung untuk suatu tempat tertentu. Rombongan yang terlalu banyak akan dipecah, bergiliran mengunjungi puluhan situs wisata alam di sini. Lain halnya dengan resort asing dan investor luar serta aparat pemerintah sendiri yang kadang membawa rombongan pelancong dengan kapal besar.

Mengembangkan wisata alam berbasis masyarakat tidaklah mudah. Tidak semudah mendatangkan investasi besar dari luar. Investasi terbesar dalam wisata masyarakat adalah pengetahuan, ketrampilan dan manajemen, serta pemberdayaan masyarakat secara komprehensif. Ini membutuhkan waktu lama dan ketekunan luar biasa. Dia juga membutuhkan dukungan besar dari pemerintah sendiri, termasuk perlindungan dari ancaman investor besar, serta stake-holder yang lebih luas, masyarakat Kalimantan Timur pada umumnya.

Tidak mudah. Tapi itu nampaknya konsep yang lebih benar dalam mengembangkan wisata alam yang eksotis tapi rapuh seperti Derawan.

Lebih dari itu, jika berhasil, konsep wisata berbasis masyarakat ini bisa diterapkan pula di banyak tempat Indonesia seperti di Enggano (Bengkulu), Mentawai (Sumatra Barat), Aceh, Flores, Papua. Ada keuntungan lain pula: pemberdayaan masyarakat lokal, baik melalui pertanian, perikanan laut dan wisata alam/sejarah, akan memperkuat pertahanan nasional. Enggano, Pulau Laut (Riau) dan Maratua adalah pulau-pulau terdepan Indonesia.

Tidak ada ketahanan lebih kuat kecuali perbaikan ekonomi dan mutu hidup masyarakat lokal. Bahkan militer dan senjatapun tidak.***

  1. December 21st, 2009 at 02:39 | #1

    Setuju, community based ecotourism supaya keseimbangan alam terjaga. Beberapa hal, kata seorang teman, sudah dilakukan. Contohnya, teman saya wisata ke sana menginap dan makannya di rumah penduduk setempat. Derawan sudah mulai dikenal. Beberapa publikasi melalui koran sudah ada. Ada juga saya dengar duta wisatanya. Beberapa even sudah mulai digelar. Kemarin juga untuk ajang pertandingan PON di Kaltim.

  2. Naira Senja
    December 23rd, 2009 at 02:52 | #2

    Selalu segar setelah membaca tulisan Farid Gaban. Seakan masih ada masa depan untuk Indonesia, karena selalu ada jalan keluar yang ditawarkan. tulisan yang solutif! Tapi, apakah tulisan orisinil semacam ini akan didengar oleh pemerintah, itu yang membuat ciut kembali. Tapi tak mengapa, suatu saat kalau kita punya daya yang lebih besar, kita akan mewujudkannya… setidaknya masih ada harapan suatu saat, meski tidak sekarang, dan semoga masih bisa tercapai.

  3. kedai kopi berau
    December 25th, 2009 at 00:51 | #3

    selamat bekerja kawan… jangan lupa trailnya di services…hehehe… sudah nyampe’ mana??? masih gatel2…jangan lupa bawa “anti gatel” untuk ubur2…hehehe… salam untuk om yunus…jangan lupa “lagunya iwan fals”…. goodluck fren… jangan lupa bukunya launching juga di berau… hehehehe…

  1. No trackbacks yet.