Menelisik Misteri Pulau Kakaban
Oleh Ahmad Yunus
Jutaan ubur-ubur melayang dalam payau di sebuah danau. Sebagian ubur-ubur yang bertubuh tambun dan kecoklatan menempel pada alga hijau yang menyerupai hamparan karpet. Air danau terasa dingin. Hening. Semakin jauh tampak gelap. Cahaya matahari memudar.
Kaki atau tentakel dari ubur-ubur meraba untuk menangkap sinar matahari. Sementara bagian tubuhnya yang menyerupai payung berada di bawah. Mereka tengah memasak untuk menghasilkan makanan.
Di sini ada empat jenis ubur-ubur yang mendiami kehidupan danau Kakaban. Keempatnya termasuk endemik. Diantaranya, Cassiopeia ornata, Tripedalia cytophora, Mastigias papua dan Aurelia aurita. Dua jenis terakhir tak memiliki kemampuan untuk menyengat. Dan mayoritas jumlahnya paling banyak.
Saya membuktikan kebenaran dari ubur-ubur tak menyengat ini. Rasa takut dan khawatir menghantui saya. Jari telunjuk saya mencoba menyentuh bagian tubuh dari ubur-ubur. Dan kemudian saya meletakan ubur-ubur itu dalam genggaman tangan. Menyentuhnya secara utuh. Ubur-ubur terasa kenyal. Dan benar, ubur-ubur ini tidak menyengat. Sesuatu yang tidak akan saya lakukan ketika berenang di laut lepas.
Ikan-ikan kecil berlarian di antara hamparan alga hijau. Akar-akar mangrove yang keras dan berotot menancap kuat. Spon yang berwarna biru menyusup di antara alga hijau. Bentuknya menyerupai cerobong. Di lapangan hamparan alga hijau ini juga terlihat Anemon. Makhluk pemangsa ubur-ubur. Warnanya putih. Memiliki banyak kaki atau tentakel yang bening. Bentuknya lonjong. Siap menyedot ubur-ubur yang lengah.
Berenang di antara ratusan ubur-ubur ini punya kesan sendiri. Takjub sekaligus melontarkan sejuta pertanyaan. Proses apa yang sudah terjadi dalam kehidupan di Pulau Kakaban ini. Saya seperti masuk dalam ruang lain. Terlempar dan menyaksikan panorama yang belum saya lihat sebelumnya. Imajinasi saya, tak sejengkalpun bisa memahami proses evolusi yang terjadi di sini.
Danau ini berada di dalam kawasan Pulau Kakaban. Sekitar setengah jam dari Pulau Sangalaki, Berau, Kalimantan Timur. Atau sekitar satu jam dari Pulau Derawan. Pulau Kakaban memikat banyak kalangan peneliti biota laut, oceanografi, hingga hidrografi. Mereka bekerja untuk menguak misteri. Dan memecahkan proses evolusi apa yang sudah terjadi di pulau yang menyerupai cincin ini.
Kuenen, seorang peneliti, pada tahun 1929 hingga 1930 melakukan ekspedisi Snellius I. Tiga tahun kemudian ia memaparkan hasil penelitiannya dalam pendekatan geologi. Ia mengumpulkan sedimen laut dasar laut.
Menurutnya, secara geologi Kakaban terbentuk dari atol (Karang) yang terangkat dari lempeng samudera. Dari kedalaman sekitar 200 hingga 300 meter. Daratan di bagian tengahnya kemudian tenggelam. Atol naik hingga ketinggian 40 sampai 60 meter di atas permukaan laut. Proses ini memakan waktu antara satu hingga dua juta tahun.
Pulau Kakaban termasuk langka di bumi ini. Dan tercatat yang memiliki kondisi serupa adalah Pulau Palau di Mikronesia. Tomascik dalam bukunya ‘The Ecology of the Indonesia Seas’ menceritakan bahwa proses evolusi yang terjadi di dalam kehidupan Kakaban telah melibatkan proses fisika, kimia dan biologi yang rumit dan panjang.
Biota laut macam ubur-ubur, alga, dan mahluk lainnya yang terperangkap harus menyesuaikan diri dengan ekosistem yang terbentuk. Kondisi ini yang menyebabkan ubur-ubur itu kehilangan sengatannya. Danau di Kakaban seluas 3,9 juta meter kubik. Panjangnya sekitar 2,6 kilometer, lebar 1,5 kilometer. Kedalaman air sekitar 11 meter.
Setelah melakukan snorkeling dan melihat ubur-ubur, saya berdiri di atas dermaga. Melihat burung yang terbang. Sebagian bertengger di dahan pohon. Ada satu burung yang memikat pandangan saya. Namanya, burung punai tengkuk hitam. Ini salahsatu burung endemik yang terdapat di kawasan Kakaban.
Di sini suasananya hening sekali. Pohon-pohon berdiri tegak. Batang pohon mangrove berdiri tegak. Tidak terdengar deburan ombak yang menghantam dinding Kakaban. Saya seperti makhluk asing yang kesepian. Saya terpukau dengan ekosistem yang terbentuk di sini.
Seorang peneliti dari Institut Antropologi Biologi dan Departemen Hewan, Universitas Oxford, Inggris, Jonathan Kindon mengatakan, biota Kakaban mewakiliki bentuk kehidupan purba yang ekstrim. Mengalahkan evolosi ikan, reptilia dan mamalia. “Hampir mustahil, di masa kini, untuk menemukan ekosistem yang tanpa dipengaruhi oleh bentuk kehidupan tingkat tinggi ini,” tulisnya.
“Saya tidak siap ketika memasuki danau yang bagaikan ‘Sup ubur-ubur’ yang berdenyut….dalam angan saya seperti ‘Melintasi waktu’ kembali ke suatu periode dalam sejarah bumi, dimana makhluk yang sudah dikenal seperti ikan, reptilia, burung, apalagi manusia, belum berevolusi,” katanya.
“Selamat datang di dunia jurassic,” kata seorang kawan, pemilik kedai kopi di Tanjung Redeb setelah saya bercerita tentang persentuhan saya dengan Kakaban. Rupanya, perjalanan manusia terlalu pendek untuk memahami misteri evolusi Kakaban. Tidak sejengkalpun imajinasi saya mampu menembus kehidupan dunia Kakaban.
Tak salah Unesco mendaulat Kakaban sebagai salahsatu warisan dunia. Dan manusia sebagai penghuni bumi sudah selayaknya juga menjaga pulau ini. Dari segala bentuk ancaman yang bisa mengusik ekologi dan kehidupan yang damai di Kakaban.***

Suara Anda