Oleh Ahmad Yunus
Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote adalah serpihan jingle kampanye saat pemilihan presiden Indonesia 2009 lalu. Lagu gubahan iklan mie ini milik Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kemudian mengantarkan SBY menjadi presiden Indonesia untuk kedua kalinya.
SBY pun memberikan janji pada pulau-pulau terluar Indonesia itu. Di pulau Miangas, ia akan membangun sebuah bandara. Pemerintahan di Jakarta juga menyetujui pembangunan sejumlah infrastruktur. Mulai dari gedung logistik, puskesmas, sarana komunikasi, sampai tangki bahan bakar minyak. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Sabtu pagi (13/03). Awalnya saya dengan puluhan penumpang lainnya adalah asing. Tak saling mengenal satu sama lainnya. Keadaan dan perjalanan akhirnya membuat kami menjadi akrab. Saling bertegur sapa. Berbagi senyuman. Rokok hingga makanan ala kadarnya.
Awalnya saling menjaga barang bawaan masing-masing. Waspada ada pencopet dan maling. Tapi lama-lama penumpang saling menjaga dan mengingatkan. Tapi saya tahu keakraban ini hanya sementara. Ujungnya, kami akan berpisah dan mengutuk keadaan selama di kapal. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Dua hari perjalanan dari Bira menuju Bau-bau. Naik kapal feri satu malam. Kemudian dilanjutkan naik speedboat menuju Bau-bau. Laut begitu tenang sepanjang perjalanan. Angin kuat yang berlangsung pada musim barat tak muncul. Seperti ketika perjalanan di Takabonerate. Angin dan ombak mengocok kapal.
Bau-bau, Pulau Buton berdetak. Banyak kapal dagang. Kami tiba menjelang sore hari. Seorang kenalan baru mengajak kami keliling Bau-bau. Jalan mulus. Naik ke puncak menuju Benteng Keraton Buton. Bentengnya rapi. Terbuat dari bebatuan karang. Benteng ini dibuat pada abad ke 16 dibawah Sultan Wolio. Dari benteng bisa melihat pemandangan Bau-bau. Hamparan laut dan deretan kapal. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Klakson feri di Pelabuhan Bira menyalak. Kami bergegas masuk. Truk dan beberapa bis terlihat di dalam perut feri. Ombak terasa kuat. Beberapa kali badan feri terasa bergetar. Angin pada musim barat terasa kuat. Sekitar dua jam berlayar. Akhirnya, kami tiba di Pelabuhan Pamatatta, Pulau Selayar,
Penumpang dan kendaraan muntah dari perut feri. Selayar tengah memperluas dan memperbaiki fasilitas pelabuhan ini. Dermaga tampak segar. Bantalan karet penahan kapal masih empuk. Pelabuhan ini titik keluar-masuk barang dan penumpang dari Selayar maupun dari Bira. Pelabuhannya memiliki dua dermaga. Tak banyak kegiatan di pelabuhan selain keluar-masuk kapal feri. Kapal-kapal tradisional milik nelayan maupun pengangkut barang terlihat bersandar. Read more…
Oleh: Ahmad Yunus
Jarak dari Jinato ke Rajuni tak terlalu jauh. Kapal bisa menempuhnya sekitar satu setengah jam. Namun angin kencang dan arus ombak terasa kuat. Membuat kapal setengah mati melibasnya. Kami menempuhnya sekitar dua jam. Ombak naik turun. Kami duduk di atas atap kapal. Memegang kuat untuk menjaga tumpuan tubuh. Kapal melawan arus. Cipratan air laut sempat mengenai kamera digital yang dipegang oleh Farid Gaban.
Kami berangkat dari Jinato pada pukul 10.00 pagi hari. Setelah air laut sedikit pasang. Dan tiba di Rajuni sekitar pukul 12.30. Terik matahari sangat keras. Rajuni seperti pulau lainnya di kawasan Takabonerate. Memiliki pasir putih dan laut di bibir pantai yang jernih. Di sini rumah warga tampak lebih padat ketimbang di Jinato. Ada dua suku yang mendiami pulau ini. Suku Bugis dan Bajoe. Bajoe adalah suku pengembara. Mereka tinggal di atas perahu. Dan menjalankan kehidupannya di atas laut. Read more…
Oleh: Ahmad Yunus
Bagaimana rasanya meninggalkan daratan Kalimantan? Rasanya campur aduk. Satu sisi senang karena telah selesai melewati daratan Kalimantan. Sisi lain, perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa belumlah tamat sampai di sana. Bahkan boleh dibilang, ini titik awal untuk memasuki etafe perjalanan berikutnya: kawasan Indonesia Timur. Kawasan kepulauan yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang di Indonesia bagian barat. Read more…
Oleh: Ahmad Yunus
Ada hal lain yang menyenangkan dalam perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Kita bertemu dengan banyak wartawan, mahasiswa, blogger, aktivis lingkungan, hingga komunitas film dan buku. Mulai dari Lampung, Padang, Aceh, Medan, Pontianak hingga Makassar. Mereka membantu perjalanan kami. Menyediakan tempat untuk menginap hingga memberi informasi soal pulau yang hendak kami liput. Read more…
Hari ini, Tim Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa akan melanjutkan perjalanan di wilayah timur nusantara. Saat ini di Makasar tengah menyusun jadwal dan menyesuaikan agenda dengan jadwal pelayaran. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Di malam pergantian tahun baru di Makassar, saya terkejut ketika membaca sebuah berita di harian Fajar, 31 Desember 2009. Ini berita kriminal yang terjadi di Enrekang. Judulnya “Wisatawan Inggris Dicopet di Atas Bus”. Berita ini dilengkapi dengan foto.
Si wisatawan terlihat panik di ruang pelayanan reserse polisi Enrekang. Namanya, Lewis Camron. Usianya 23 tahun. Ia kehilangan dompet. Isinya uang tunai USD 50, 50 dolar Singapura, dan 500 ribu rupiah. Read more…
Oleh Ahmad Yunus
Kapal kayu milik Turisi tersendat-sendat. Air laut surut. Lumpur menghalangi laju kapalnya. Mesin menderu. Baling kapal mencakar lumpur. Ia baru saja pulang dari Tawau, Malaysia. Belanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari gula, beras, ayam kampung, hingga bibit tanaman.
Kapalnya menyusuri perbatasan antara Malaysia dan Indonesia di Pulau Sebatik. Pekarangan Malaysia di Sebatik hanya ditumbuhi dengan bakau. Tak terlihat bangunan rumah. Apalagi kehidupan yang meramaikannya. Tak ada pancang yang mengibarkan bendera Malaysia. Apalagi menaruh tentaranya untuk menjaga pertahanan perbatasan. Read more…
Suara Anda